Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
KEVIKEPAN KEDU : Rakorda WKRI Jateng 2013 berlangsung di Magelang 
Tuesday, February 26, 2013, 17:11 - BERITA Posted by Administrator


Rapat Koordinasi Tingkat Daerah Wanita Katolik RI (RAKORDA WKRI) secara resmi dibuka Sabtu kemarin (23-2-2013) oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta di Wisma Sejahtera Magelang. Acara pembukaan rapat yang diikuti oleh sekitar 200 peserta yang terdiri dari Pimpinan Dewan Pengurus Daerah dan Dewan Pengurus Cabang se Jawa Tengah ini juga dihadiri oleh Walikota Magelang Ir. H. Sigit Widyonindito yang diwakili oleh Kepala Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kota Magelang Jatmo Wahyudi dan Vikep Kedu FX. Krisno Handoyo Pr. Rakorda WKRI tahun 2013 pelaksanaannya dipercayakan pada WKRI Cabang Kota Magelang, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung. ‘Diharapkan melalui pertemuan kali ini Wanita Katolik RI Jawa Tengah dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna, terutama dalam memberikan kontribusi terhadap lingkungan sosial masyarakat’, demikian disampaikan MC. Wiwiek Purwaningsih Ketua Panitia Rakorda sebelum acara pembukaan dimulai.



Walikota Magelang mengharapkan hendaknya program – program WKRI sejalan dengan program Pemerintah, khususnya dalam memperjuangkan persamaan jender dan meningkatkan kemandirian dalam berbangsa. Lebih lanjut dikatakan dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Dinas Perhubungan dan Komunikasi Jatmo Wahyudi : ‘ Pemerintah Kota Magelang beserta masyarakat turut berbangga, Rapat Koordinasi Daerah Jawa Tengah WKRI dilaksanakan di Kota Magelang. Hendaknya melalui Rakorda ini akan menambah energi untuk wanita Katolik khususnya, kaum perempuan pada umumnya, serta masyarakat Kota Magelang, sehingga secara bersama – sama dapat meningkatkan kualitas keimanan juga meningkatkan semangat pengabdian terhadap sesama dalam rangka menggapai kehidupan yang lebih sejahtera’. Sementara itu Uskup Agung Semarang dalam sambutannya mengajak WKRI Jawa Tengah untuk memiliki tanggung jawab yang muncul dari eksistensi sebagai Wanita Katolik. ‘ Ancaman yang bisa merusak kehidupan Jawa Tengah, antara lain sikap intoleran, korupsi,narkoba yang mencandui anak-anak muda, juga lingkungan hidup. Bagaimana ancaman itu kita ubah menjadi peluang untuk membangun Jawa Tengah menjadi ruang publik yang aman bagi semua warganya. Inilah tanggung jawab yang muncul dari eksistensi WKRI.’ demikian lanjut Mgr. Pujasumarta.





Rakorda tahun 2013 yang berlangsung selama 2 hari ( 23/24 – 2 – 2013 ) mengambil tema ‘Memantapkan Eksistensi Wanita Katolik RI dalam Dinamika Kehidupan Masyarakat di Jawa Tengah’ dan merupakan bagian dari persiapan pelaksanaan Konferda WKRI Jawa Tengah ke XII yang akan berlangsung tahun 2015 mendatang. WKRI merupakan organisasi kemasyarakatan yang didirikan pada tanggal 26 Juni 1924 di Yogyakarta atas prakarsa RA. Maria Soelastri Sasraningrat Soejadi Darmosepoetro. Bersama dengan 7 organisasi wanita lain yang ada di Indonesia pada 22 Desember 1928 menyelenggarakan konggres Perempuan di Yogyakarta yang kemudian menjadi tonggak sejarah peringatan Hari Ibu. Lebih lanjut dikatakan Wiwiek ; ’ WKRI sebagai bagian dari warga Negara dan warga Gereja , diharapkan untuk tanggap akan berbagai permasalahan yang ada di tengah masyarakat dan berbuat sesuatu yang kongkret sehingga kehadirannnya dirasakan secara nyata oleh masyarakat’.



Dalam penyusunan Program Kerja tahun 2013 baik di tingkat Daerah maupun Cabang WKRI merekomendasikan tentang penguatan pemberdayaan perempuan diantaranya, meningkatkan peran perempuan dalam bidang politik dan pengambilan keputusan, meningkatkan taraf pendidikan, kesehatan dan meningkatkan gerakan anti kekerasan terhadap perempuan. ’Penguatan pemberdayaan perempuan ini akan berhasil dengan baik jika ada koordinasi dan kerjasama kaum perempuan dari berbagai komponen, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dan lembaga-lembaga lain yang memiliki fokus dengan isu perjuangan penegakan hak-hak perempuan.’, demikian pungkas Wiwiek.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu ).

SEJARAH LINTAS PAROKI : Profil : R. Ay. MARIA SOELASTRI SOEJADI DARMASEPOETRA SASRANINGRAT Pendiri Wanita Katolik RI 
Tuesday, February 19, 2013, 17:10 - Sejarah Posted by Administrator



Nama ini erat melekat pada sebuah organisasi perempuan katolik besar yang pada tahun 2013 ini berusia 89 tahun. Ya, beliau adalah penggagas, pendiri dan penggerak ormas Wanita Katolik Republik Indonesia. Tak banyak yang tahu tentang pribadi dan sejarah atau biografi Ibu Maria Soelastri, dan sulit sekali mencari referensi tentang beliau, tidak seperti sejarah organisasi yang didirikannya, yang mudah diakses lewat internet atau media lainnya.

R.A. Maria Soelastri Sasraningrat lahir pada tanggal 22 April 1898 di Yogyakarta. Beliau adalah putra ke-5 (puteri ke-3) dari Pangeran Sasraningrat, putera mahkota Sri Paku Alam III, dan B.R.Ay Sasraningrat. Tidak disebut saudara-saudari sekandung Maria Soelastri, namun diketahui bahwa kakak perempuan beliau adalah R.A. Sutartinah Sasraningrat yang terkenal sebagai Nyi Hajar Dewantara (yang kemudian mendirikan Wanita Taman Siswa). Sedangkan adiknya adalah R.A. Catharina Soekirin Sasraningrat (setelah menikah : R.A. Catharina Soekirin Hardjadiningrat, menjadi ketua pertama organisasi yang didirikan Maria Soelastri). Jika dari pihak ayah – Pangeran Sasraningrat – Maria Soelastri adalah cucu dari Paku Alam III yang terkenal amat nasionalis dan sangat disegani oleh kolonialis Belanda, maka dari pihak ibu, ibunda R.A. Maria Soelastri adalah cicit Pangeran Diponegoro.

Sedari kanak-kanak hingga remaja, Maria Soelastri begitu tertarik mempelajari budaya bangsa lain, termasuk diantaranya budaya barat, untuk menjawab rasa ingin tahu beliau kenapa tanah air Indonesia dikuasai bangsa barat. Sebaliknya, ayahanda beliau, Pangeran Sasraningrat, sangat menaruh minat pada Kesusasteraan Jawa Kuno dengan pergolakan-pergolakan dan perubahan jamannya. Kegiatan beliau dalam bidang jurnalistik membawa beliau berkenalan dengan tamu-tamu dari luar daerah, juga dari Batavia. Salah satunya adalah Dr. Hazeu, penasehat urusan pemerintahan jajahan, yang membawa serta seorang anggota Misi Gereja Katolik untuk Jawa Tengah yaitu Romo van Lith. Romo van Lith yang kemudian sering berkunjung untuk mempelajari Sastra Jawa, adat istiadat dan kebudayaan Jawa.

Th. 1906 dengan rekomendasi Romo van Lith dan disetujui ibunda B.R.A. Sasraningrat masuklah Ibu Maria Soelastri ke Europeese Meisjesschool dari Ordo Suster Fransiskanes Kidul Loji Mataram, Yogyakarta.

Dari sejarah keluarga Maria Soelastri ini, dan dari lingkungan dan komunitas keluarga yang banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh pendidikan pada masa itu, tentu menjadi mudahlah bagi kita untuk dapat memahami sifat dan sikap nasionalisme Maria Soelastri yang kental, amat peduli pada rakyat kecil dan berpikiran maju.

Perasaannya yang halus dan mudah tersentuh pada penderitaan kaum lemah begitu kuat, yang kemudian mendorong untuk melakukan suatu tindakan nyata bagi orang-orang di sekitarnya. Secara khusus perhatiannya tercurah pada buruh perempuan di pabrik cerutu Negresco dan pabrik gula di Yogyakarta dan usaha untuk mencarikan jalan keluar bagi kesejahteraan dan masa depan mereka. Dari kaum buruh inilah usaha peningkatan derajat dan martabat wanita pada umumnya dan wanita katolik pada khususnya dimulai.

Saat awal didirikannya Poesara Wanita Katholiek – kelak menjadi Wanita Katolik RI – bersama teman-temannya pada tanggal 26 Juni 1924, yang terpilih sebagai ketua pertamanya adalah adik Maria Soelastri, yaitu R.A. Catharina Soekirin Sasraningrat karena R.A. Maria Soelastri bertempat tinggal di Magelang. Terlihat betapa ia amat ‘sepi ing pamrih’ (tak punya pamrih atau ambisi pribadi), namun sepak terjangnya dalam membela kaum buruh dan kegigihannya itu membuatnya mendapat julukan ‘singa betina’ yang amat disegani.
Th. 1914 Ibu R.Ay. Maria Soelastri Sasraningrat dipersunting oleh Dokter Hewan R.M. Jacobus Soejadi Darmosapoetro, yang meskipun seorang pegawai negeri dalam pemerintahan tetapi berideologi politik melawan Politik Kapitalis Kolonial.

Ketika Wanita Katolik RI merayakan ulangtahunnya yang ke-50 di tahun 1974, Maria Soelastri menuliskan sebagian dari pengalaman perjuangannya, dengan antara lain menulis :
Sebagai langkah perjuangan yang pertama Ibu (Maria Soelastri – red) menemui pengusaha-pengusaha Belanda dari Pabrik Cerutu dan Pabrik Gula di Yogyakarta yang kedua-duanya juga beragama katolik. Buruh kedua pabrik ini sebagian besar terdiri dari buruh wanita. Pertemuan berlangsung dalam suasana damai. Pembicaraan diadakan dari hati ke hati dengan berpedoman pada Ensiklik-ensiklik Gereja Katolik, antara lain Rerum Novarum dari Bapak Leo ke XIII di Roma dan Quadragesimo Anno dari Paus Pius XI.

Sebagai hasil pembicaraan, dengan segera dibentuklah peraturan-peraturan di kedua belah pabrik tersebut untuk perbaikan nasib para buruhnya pada umumnya dan buruh wanita pada khususnya. Langkah berikutnya dari Organisasi Wanita Katolik meliputi kerja sama dengan Usahawan-usahawan Katolik Belanda untuk mengadakan segala macam perbaikan nasib para buruh.

(Maria Soejadi Darmosaputro Sasraningrat, 24-6-1974) – oleh Iswanti, Kodrat yang Bergerak

Kini buah pikiran dan gagasan ibu R.A. Maria Soelastri Soejadi Sasraningrat telah semakin dikembangkan dan diwujud-nyatakan secara meluas. Dari gagasan yang muncul dari seorang perempuan ningrat yang peduli pada kaumnya, dari sebuah tempat ikrar di Kidul Loji, Yogyakarta, kini telah meluas ke seluruh nusantara. Dan gagasan itu semakin dikembangkan oleh srikandi-srikandi masa kini yang mengambil tongkat estafet dari para pendahulunya, namun sampai sekarang gagasan inti tetap tak lekang oleh waktu, tertuang dalam visi misi organisasi Wanita Katolik RI : demi tercapainya kesejahteraan bersama serta tegaknya harkat dan martabat manusia, dengan dilandasi nilai-nilai Injil dan Ajaran Sosial Gereja.

R.A. Maria Soelastri wafat di Yogyakarta dan dimakamkan di Kompleks Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA).

Sumber :
Perempuan-perempuan Pejuang Kemanusiaan oleh DPP Wanita/ Katolik RI / Blog Kodrat Bergerak – Iswanti / http://www.wkriungaran.wordpress.com (Wanita Katolik RI, sekilas sejarah awal pembentukan)

Rabu Abu 
Tuesday, February 19, 2013, 14:40 - BERITA Posted by Administrator


Mulai hari Rabu (13 Februari 2013 ) umat Katolik seluruh dunia memasuki masa pertobatan dengan berpuasa. Umat di Gereja St. Ignatius Magelang mengawali masa puasa 40 hari ini dengan Perayaan Ekaristi atau Misa Rabu Abu yang dilaksanakan mulai Selasa sore (12 Februari 2013) yang dipimpin oleh Pastor Paroki St. Ignatius Magelang AR. Yudono Suwondo Pr. dan Rabu paginya jam 05.30 Misa dipimpin oleh FX.Krisno Handoyo Pr Pastor Kepala Paroki. Dalam Misa Selasa petang yang dihadiri oleh lebih 700 umat, Romo Wondo menandai kening umat yang mengikuti Misa dengan abu sebagai tanda pertobatan.

Rabu Abu dalam tradisi Gereja Katolik merupakan hari pertama masa Pra Paskah dan menjadi awal masa puasa selama 40 hari sampai dengan perayaan Paskah. Sejak abad pertengahan Gereja telah mempergunakan abu untuk menandai permulaan masa tobat Prapaskah. Pada kesempatan ini umat diingatkan kembali tentang ketidakabadian dan diajak untuk menyesali akan dosa-dosa yang telah diperbuat. Dalam perayaan Misa Rabu Abu digunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada tahun sebelumnya. Pastor atau Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat dengan membuat tanda salib. Memaknai abu yang telah diterima, umat diingatkan untuk menyesali dosa dan melakukan silih bagi dosa-dosa, mengarahkan hati kepada Kristus yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan manusia. Dalam masa puasa Pra Paskah ini umat Katolik juga diajak untuk berkarya dan beramal belas kasihan terhadap sesama, terlebih kepada yang berkekurangan, lemah, miskin, tersingkir dan defabel. Melalui karya dan amal ini maka akan menjadi bagian dari silih, tobat, dan pembaharuan hidup.

Memasuki masa puasa tahun 2013 Keuskupan Agung Semarang lewat Aksi Puasa Pembangunan (APP) mengajak seluruh umat Katolik untuk semakin beriman dangan bekerja keras dan menghayati misteri Salib Tuhan. ‘Dengan bekerja, mengerjakan sesuatu yang baik adalah berkat bagi orang lain dan dirinya’, demikian disampaikan Romo Wondo, panggilan akrab Pastor Paroki St. Igantius Magelang itu. ‘ Ditegaskan dalam Ajaran Sosial Gereja bahwa kerja mempunyai suatu tempat yang terhormat dan merupakan sumber berbagai kekayaan, atau setidaknya syarat bagi suatu kehidupan yang layak. Kerja merupakan sebuah sarana yang efektif melawan kemiskinan. Namun seringkali orang lalu jatuh menjadikan kerja sebagai berhala, Sebab makna kehidupan paling tinggi dan menentukan tidak boleh dicari dan ditemukan dalam kerja. Kerja itu hakiki, namun Allah itulah dan bukan kerja yang merupakan sumber kehidupan serta tujuan akhir manusia’.

Pekan Doa Sedunia 2013 ; Ajak Umat Kristiani selalu berlaku adil, mencintai kesetiaan dan rendah hati. 
Friday, January 25, 2013, 16:52 - BERITA Posted by Administrator


Cuaca mendung dan gerimis di kota Magelang kamis pagi kemarin ( 24 Januari 2013 ) mengantar ratusan umat kristiani menghadiri dan mengikuti selebrasi ibadah Pekan Doa Sedunia di Panti Bina Bakti kompleks Gereja St. Ignatius Magelang. Ibadah Ekumene bersama antara umat Kristen Protestan dan Katolik ini diikuti oleh umat dari Gereja – gereja se kota Magelang dan dihadiri oleh Pastor dan para pendeta diantaranya FX. Krisno Handoyo Pr Pastor Kepala Paroki St. Ignatius Magelang, Pendeta Y. Sudjarwi STh dari Gereja Isa Almasih Candi Nambangan yang juga Ketua Badan Kerjasama Gereja–gereja Kristen se Kota Magelang,Pendeta Parlaen dari Gereja Baptis Indonesia, Pendeta Susiana Kristianingsih dari GPIB Tidar Baru, Pendeta Markus dari Gereja Bethel Indonesia di Jalan Pahlawan, Pendeta Timotius, Pendeta Yosafat Kasiadi dan Pendeta Saryoto STh dari Gereja Kristen Jawa Tentara Pelajar.







Dalam homilinya (kotbah) Krisno Handoyo yang juga Vikep Kedu ini mengajak seluruh umat Kristiani kota Magelang untuk selalu berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati. ‘Dalam Pekan Doa Sedunia ini kita diajak untuk berefleksi tentang ketidakadilan yang dialami oleh kaum lemah, kecil, tersingkir, miskin, tersingkir dan difabel. Dalam ketidakadilan yang terjadi, Allah menuntut kita berbuat sesuatu !’, demikian dikatakan Romo Krisno.







Pekan Doa Sedunia tahun 2013 ini dimulai tanggal 18 hingga 25 Januari dengan memilih metafora ‘berjalan’ dan ‘perjalanan’ selama delapan hari untuk berdoa. Lebih lanjut dikatakan : ‘Sebagai umat Kristiani kita memang hendak berjalan dalam perjalanan dan komunikasi yang dinamis. Tuhan membimbing kita dalam menggapai keadilan dan perdamaian itu. Bimbingan-Nya hanya akan menjadi nyata dalam kemanusiaan dan sejarah manusia. Melalui jalur kemanusiaan ini Allah mengundang setiap orang untuk berjalan bersama-Nya menggapai keadilan dan perdamaian !’.








Acara yang diprakarsai oleh Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Gereja St. Ignatius Magelang ini diakhiri dengan menderaskan doa-doa syafaat yang dipimpin oleh para Pendeta secara bergantian dan diikuti oleh seluruh umat. Dalam tradisi Gereja Katolik, Pekan Doa Sedunia memang telah dimulai sejak Konsili Vatikan II ditutup secara resmi pada tahun 1965. Di berbagai kota di Indonesia, di Jawa pada khususnya pada tahun – tahun sebelumnya Pekan Doa Sedunia ini juga telah berlangsung, sementara di Kota Magelang baru pada tahun 2013 ini bisa diselenggarakan.

E. Yusuf Kusuma ( Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu ).



<<First <Back | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang