Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
Menghitung Tanggal Paskah 
Tuesday, April 19, 2011, 07:52 Posted by Administrator




Setiap kali kita merayakan Paskah, kita mengalami fakta bahwa Hari Raya Paskah selalu jatuh pada hari Minggu, tetapi tanggalnya berubah-ubah terus.
Pergeseran tanggal Paskah itu antara 21 Maret sampai 25 April. Mengapa demikian? Dan bagaimanakah cara menentukan tanggal Paskah tersebut?

1. MENGGUNAKAN TABEL
Perhitungan tanggal hari Paskah mengikuti dua pola kalender, yaitu kalender surya dan kalender candra. Kalender surya adalah kalender yang didasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari (1 tahun = 365,25 hari), sedangkan kalender candra berdasar pada peredaran bulan mengelilingi bumi (1 tahun = 355 hari).

Titik awal perhitungan tanggal Paskah adalah datangnya musim semi (karena Palestina dan Eropa memiliki 4 musim). Musim semi adalah awal cahaya terang dan kesegaran hidup di bumi, melambangkan Kristus cahaya dan kehidupan bagi dunia. Awal musim semi itu terjadi pada tanggal 21 Maret. Siklus musim semi akan berulang kembali setiap 19 tahun.
Sesuai dengan kebiasaan Yahudi yang merayakan Paskah setelah hari ke-14 dalam bulan (= saat bulan purnama), maka purnama pertama setelah 21 Maret itu disebut sebagai "Tanggal Purnama Paskah" (TPP). Dari sinilah kemudian dicari hari Minggu terdekat sesudahnya. Jadi hari Minggu Paskah adalah hari Minggu setelah Tanggal Purnama Paskah.
Karena jumlah hari ada tujuh, maka ada tujuh kemungkinan TPP. Siklus 7 hari itu tidak terulang, karena adanya tahun kabisat. Maka siklus tersebut akan berulang setiap 7 x 4 = 28 tahun sekali; inilah yang disebut siklus syamsiah.
Dengan demikian siklus tanggal paskah akan berulang setiap 28 x 19 tahun atau 532 tahun. Siklus ini disebut Siklus Victorius , karena untuk pertama kali diperkenalkan oleh Victorius dari Aquitaine di Roma pada tahun 457.

Terdapat dua versi perhitungan tanggal Paskah, yakni
- sistem Kalender Julius.
Merupakan metode yang pertama kali digunakan; sudah ada perhitungan tahun kabisat, tetapi belum memperhitungkan bahwa perputaran sistem matahari itu tidak persis 365,25 hari, tetapi kurang sedikit (365,23xxx). Oleh karena itu setelah beberapa abad terjadi selisih perhitungan dengan kalender astronomis. Digunakan sejak tahun 326 Masehi oleh Gereja Ortodols Timur.
- sistem Kalender Gregorius.
Metode ini mulai digunakan setelah reformasi kalender Gregorian tahun 1582. Adapun cara kerjanya diuraikan secara rinci oleh Clavius dalam bukunya "Six Canons" tahun 1582. Digunakan oleh Gereja Katolik dan Protestan pada umumnya.

Di sini hanya akan disajikan sistem Kalender Gregorian saja. Untuk lebih jelasnya, kita lihat tabel berikut ini:

Tabel TPP untuk tahun 1900 - 2199 Masehi
(300 tahun; M=Maret, A=April)



Keterangan:
Modulus thn:19
artinya angka tahun dibagi 19, sisanya = ....
TPP = Tanggal Purnama Paskah.

Misalnya kita ingin tahu tanggal berapa Paskah tahun 2010.
2010 : 19 = 105, sisanya = 15.
Dalam tabel, di bawah angka 15 tertulis 30M. --> TPP untuk tahun 2010 adalah 30 Maret.
Hari apakah 30 Maret 2010 itu? Selasa.
Minggu Paskah adalah hari Minggu setelah TPP, yaitu 4 April.

Dengan menggunakan tabel di atas, nampaknya perhitungan menjadi mudah. Tetapi perlu diingat, bahwa untuk menentukan hari TPP diperlukan cara tersendiri. [lihat: Mencari Nama Hari]

2. MENGGUNAKAN ALGORITMA
Selain menggunakan tabel, pencarian tanggal paskah juga dapat dibuat dengan menggunakan algoritma atau perhitungan aritmatika biasa, yaitu: penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, modulus, dan penyimpanan (plus, minus, kali, bagi, modulus, assign. Untuk itu dapat digunakan kalkulator atau komputer.

2.1. Algoritma Gauss
Seorang ahli matematika bernama Carl Friedrich Gauss memperkenalkan algoritma penghitungan tanggal Paskah (sistem Gregorian dan Julian) pada tahun 1800, dan direvisi pada tahun 1816.


Catatan: mod = modulus; floor = pembulatan ke bawah.

2.2. Algoritma Gregorius Anonim
Algoritma ini dibuat oleh seorang koresponden dari New York yang dimuat dalam harian Nature pada tahun 1876. Algoritma ini khusus dibuat untuk sistem Gregorian, dan sudah mengalami beberapa kali cetak ulang:
1877 pada The Ecclesiastical Calendar, 1922 pada General Astronomy, 1977 pada Journal of the British Astronomical Association , 1988 pada Practical Astronomy With Your Calculator , dan 1991 pada Astronomical Algorithms.


Selamat Mencoba !!!

Sumber (saduran bebas) dari Wikipedia
Selamat Paskah.
Chris SG

Temu Anak Se-Keuskupan Agung Semarang 
Tuesday, April 12, 2011, 15:21 - BERITA Posted by Administrator


Dalam rangka ulang tahun ke 75 tahun, Seminari Tinggi Kentungan mengadakan kegiatan temu anak. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan-perwakilan paroki yang ada di Keuskupan Agung Semarang. Ada sekitar 2000an anak dan pendamping yang terlibat dan berpartisipasi dalam acara tersebut.

Paroki St Ignatius Magelang tidak mau ketinggalan. Ada 26 anak dan 5 pendamping yang datang untuk mengikuti acara tersebut. "Biar anak-anak semakin kenal dengan tempat penggodokan para calon imam dioses di Keuskupan Agung Semarang ini. Semakin mengenal, semakin mereka cinta Gereja" demikian penjelasan Romo Wito yang juga ikut menghantar anak-anak ke Seminari Tinggi.



Ada aneka kegiatan yang dibuat. Anak-anak juga diajak untuk berkeliling di kompleks Seminari. Di setiap titik perhentian, terdapat stan-stan yang menggambarkan aktivitas para frater. Mulai dari lukisan, teater, karawitan, musik, sampai aneka permainan. Semua itu tampak menarik minat anak-anak.

Anak-anak Ignatius juga tidak mau ketinggalan. Mereka dengan berani menampilakn kebolehannya menyanyi di atas panggung. Salut untuk anak-anak Ignatius. Mog-moga tumbuh benih panggilan dalam diri mereka.
Yuuukk, ber-AKSI PUASA 
Tuesday, March 8, 2011, 17:44 - Inspirasi Posted by Administrator
Ade bergegas mencari ayah dan ibunya.

“Bu, ada titipan amplop!” katanya sambil menyerahkan amplop itu kepada ibunya.

“Amplop apa, Dik?” tanya ibunya.

Dengan semangat empat lima, Ade menjelaskan amplop itu.

“Tadi Pak Paijo ke sini. Terus nitipin amplop itu. Pak Paijo mengatakan kalau amplop itu adalah amplop APP. Gitu, Bu!”

Ibu Ade mengamati amplop itu dan memasukkan ke dalam buku Puji Syukur yang biasa dibawanya ke gereja.
“APP itu apa sich, Bu?” tanya Ade kepada ibunya yang masih sibuk dengan amplop dan Puji Syukurnya.

Ibunya gelagapan mendengar pertanyaan anaknya itu. Pura-pura aja tidak mendengar pertanyaan anaknya dengan pura-pura membolak-balik buku Puji Syukur.

“APP itu Aksi Puasa Pembangunan, dik!” sahut ayahnya dari ruang tamu.

Ade segera menemui ayahnya di ruang tamu. Karena penasaran, Ade segera memberondong ayahnya dengan pertanyaan-pertanyaan, “Trus kenapa harus ada amplop segala? Emangnya amplop itu untuk apa?”

“Ow.. gini lho, dik! Aksi Puasa Pembangunan itu salah satu ungkapan dalam masa Prapaska. Selama Prapaskah, kita berpantang dan berpuasa. Pantangnya setiap hari Jumat. sedangkan puasanya pada hari Rabu abu dan Jumat Agung".

"Emangnya cara pantang dan puasa itu bagaimana sich, Pak?" Ade makin tertarik dengan keterangan ayahnya.

"Cara pantang adalah memilih untuk tidak membuat apa yang paling kita sukai. Misalnya Adik puasa tidak jajan. Bapak pantang tidak merokok. Ibu pantang tidak dolan ke mall. Sedangkan puasa itu makan kenyang hanya sekali sehari".

"Wah... gampang sekali ya, Pak! Kalau cuma gitu, Adik aja bisa!"

"Memang sangat gampang, Dik. karena mudah itu, banyak orang malah tidak membuatnya. hahahaahaha..... Ya, tho? Karena mudah itu maka kita bisa membuat gerakan pantang dan puasa sendiri yang lebih berat. Selain itu, kita juga membuat gerakan pengumpulan dana APP. Nah, APP itu harus punya daya ubah, Dik!”.

Belum selesai menjelaskan, Ade langsung menyerobot, “Pengumpulan dananya kapan, Pak?”

Ayahnya hanya tersenyum, “Jadi, antara APP dan puasa itu ada kaitannya. Karena sebenarnya makna yang terkait antara puasa dan APP, yaitu memberikan hasil puasa dan pantang. Jadi penghematan yang dilakukan kita sisihkan sebagai wujud keprihatinan terhadap sesama yang berkekurangan lewat menabung. Misalnya adik pantang jajan, uang jajannya itu disisihkan. Klo bapak pantang rokok, uang beuat beli rokok disisihkan. kalau ibu pantang belanja atau main ke mall maka uangnya itu disisihkan. Dan itu fungsi dari amplop APP yang diedarkan oleh gereja”.

“Jadi amplop itu diisi selama masa Prapaskah ya, Pak?”

“Bener, Dik! Adik itu cerdas, ya... hehehehe... Ini baru anak bapak! Tapi gini, dik! Kita itu masih sering salah mengerti mengenai dana APP. Kayak ibumu itu. Amplop APP itu dianggap sebagai bentuk sumbangan wajib atau partisipasi yang nanti di isi saat ketua lingkungan datang mengambilnya, bukan hasil dari puasa. Makanya amplop itu disimpen!” kata ayah Ade sambil melirik ibunya.

"Iya dech... Ibu keliru!" Ibu Ade hanya bisa tersenyum kecut.

“Trus baiknya amplop itu diapain, Pak?”

“Gini aja.. Kita buat kotak APP. Trus kita taruh di ruang keluarga. Setiap hari kita sisihkan uang makan, uang jajannya asik, uang rokoknya bapak, dan uang belanjanya ibu.. Hasilnya kita masukkan ke kotak itu. Gimana, Dik?”

“Ok, Pak! Kita buat sekarang aja, ya?”

Kemudian Ade dan Ayahnya membuat kotak APP dan menaruhnya di ruang keluarga.

BAGAIMANA DENGAN ANDA?
Surat Gembala Prapaskah 2011 
Thursday, March 3, 2011, 22:41 - BERITA Posted by Administrator
SURAT GEMBALA PRAPASKA 2011
KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

Hari Minggu Biasa IX Tahun A/I, Tanggal 5 – 6 Maret 2011


“Orang Katolik Sejati Melakukan Kehendak Bapa”


Saudari-saudaraku yang terkasih,

Rabu Abu menjadi pintu masuk bagi kita semua ke dalam masa Pra Paska, yang dalam tradisi Gereja dijadikan masa untuk “retret agung”. Disebut “retret agung” karena selama 40 hari kita diajak oleh Gereja untuk mengikuti Yesus Tuhan kita semakin dekat, mengenal-Nya semakin dalam, dan mencintai-Nya semakin mesra. Saya anjurkan seluruh umat Katolik sungguh menggunakan masa retret agung untuk keperluan tersebut, secara pribadi maupun bersama, agar iman berkembang semakin mendalam dan tangguh, dan dengan demikian menjadi orang Katolik sejati.

Selama masa Pra Paska 2011 kita diajak untuk merenung, berdoa, dan membicarakannya dalam pertemuan umat dengan tema “Inilah orang Katolik Sejati”. Di manakah terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik? Pada nama baptis Katolik yang dipasang melengkapi nama diri? Tentu tidak. Pada keterangan agama yang kita anut, yang tercantum pada KTP? Tidak juga. Pada cara seruan ketika kita berdoa? Pada kutipan Injil hari ini Tuhan Yesus bersabda, ‘Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat. 7: 21) Bukan pada cara seruan kita berdoa, tetapi pada rahmat yang memampukan kita melakukan kehendak Bapa di sorga terletak kesejatian kita sebagai orang Katolik.

Dengan pernyataan tersebut, dapat kita mengerti pula bahwa ‘kekatolikan’ memuat pemahaman tentang iman yang terbuka, bahwa siapa pun yang melakukan kehendak Bapa di sorga dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Katolik merupakan suatu nama yang memuat ajakan agar kita diperkenankan mengalami Allah yang sejati. Pada zaman kita ajakan tersebut menjadi sungguh berat karena kita hidup dalam berbagai arus yang berlawanan secara ekstrim. Ada arus tak peduli pada keberadaan Allah dan perannya bagi keselamatan manusia karena manusia merasa semakin mampu mengusahakan keselamatan sendiri. Ada juga arus fanatisme beragama yang dipeluk oleh orang-orang yang berseru “Tuhan, Tuhan”, namun perilakunya tidak sesuai dengan seruannya, karena merusak milik orang lain, dan bahkan membinasakan kehidupan manusia.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Dalam kehidupan beragama kerap kita jumpai praktek-praktek keagamaan yang tidak selaras dengan pengalaman akan Allah yang sejati, karena bukan Allah yang kita muliakan, melainkan kepentingan diri sendiri yang kita penuhi. Kita beranggapan bahwa pelaku utama keselamatan itu diri manusia, diriku, dan bukan Allah. Dalam seruan kepada Allah, kerap kita berpendapat yang harus terjadi adalah kehendakku, bukan kehendak Bapa yang di sorga. Ranah keagamaan telah kita jadikan tempat berjualan, dan bukan lagi menjadi tempat doa. Kita ciptakan ilah-ilah baru yang muncul dari kepentingan diri kita sendiri untuk memenuhi kepentingan diri kita sendiri pula.

Ketidakberesan dalam ranah keagamaan ini menjadi sumber aliran-aliran arus yang bermuara pada ruang publik yang tuna adab. Intoleransi yang akhir-akhir ini menjadi-jadi, kebohongan publik yang merambah ke setiap sudut ruang kehidupan masyarakat, korupsi, ketidakadilan, kekerasan yang merajalela, bahkan telah masuk dalam keluarga-keluarga kita adalah buah-buah dari hidup keagamaan yang tidak benar, karena yang kita sembah sebenarnya bukan Allah sejati, melainkan ilah-ilah ciptaan kita sendiri.

Permenungan kita mengenai “Inilah orang Katolik sejati” merupakan ajakan pertobatan, agar kita meninggalkan kegelapan untuk masuk dalam terang. Kita buka hati kita agar Roh Kudus, Roh Penasihat, menasihati kita agar menjadi trampil melaksanakan pembedaan roh-roh (Inggris: “discernment of spirits”, Latin “discretio spirituum”). Dalam ulah rohani ini kita kenal langkah-lagkah rohani untuk “necep sabda, neges karsa, ngemban dhawuh”. Langkah-langkah itulah yang dapat kita lakukan untuk mengisi masa Pra Paska kita menjadi masa retret agung.

Dalam langkah “necep sabda”, kita buka telinga kita untuk mendengarkan sabda Allah, yang bersabda melalui Kitab Suci. Sabda itu terasa manis karena meneguhkan perbuatan baik kita, namun sabda itu bisa pahit kalau mengkritik perbuatan salah kita. Seharusnya sebagai orang Katolik sejati kita biarkan daya kekuatan sabda itu mengubah hati kita. Dalam langkah “neges karsa” kita menjajagi apa kehendak Tuhan bagi hidup kita, membeda-bedakan mana kehendak Tuhan, mana kehendak kita; dan kemudian menegaskan bahwa kehendak Tuhanlah yang harus kita utamakan dalam kehidupan kita. Dalam langkah “ngemban dhawuh”, kita bangun kehendak hati dan budi kita karena kita bertekad melaksanakan kehendak Tuhan “ngemban dhawuh Dalem Gusti” dalam kehidupan kita.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Saya yakin, langkah-langkah itu dapat membantu kita menjadi bijaksana untuk mendirikan rumah di atas batu, sebagaimana dikatakan Tuhan, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Mat. 7:24-25).

Sebagai orang Katolik sejati, marilah kita juga bersedia diantar oleh Maria, bunda Allah dan bunda Gereja, kepada Yesus, “per Mariam ad Jesum”. Maria telah menjadi teladan beriman kita. Seluruh hidupnya telah menjadi kesempatan untuk menyimpan segala peristiwa dan merenungkannya dalam hatinya. Setiap kali kita berdoa rosario, dalam sinar peristiwa-peristiwa Tuhan: gembira, terang, sedih dan mulia, kita diajak untuk merenungkan peristiwa-peristiwa hidup kita sendiri sebagai peristiwa-peristiwa keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah sendiri.

Allah yang telah memulai pekerjaan-pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6).


Salam, doa dan Berkah Dalem,

Semarang, 25 Februari 2011


+ Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang


<<First <Back | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | Next> Last>>

 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang