Selamat Datang di Website
Gereja Katolik St Ignatius Magelang
   
SURAT GEMBALA HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA Ke-68 
Friday, August 16, 2013, 15:45 - Pastoral Posted by Administrator


dibacakan pada Sabtu-Minggu, 17-18 Agustus 2013)

“Mengisi Kemerdekaan Dengan Peradaban Kasih”

Saudari dan saudaraku terkasih dalam Tuhan,

1. Pada tanggal 17 Agustus 2013 kita rayakan Hari Raya Kemerdekaan Indonesia yangke-68. Kita bersyukur karena kemerdekaan telah dikaruniakan kepada bangsaIndonesia atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa. Kemerdekaan sebagai rahmat Allah diakui pula oleh pejuang kemerdekaan negeri ini dengan menyatakannya dalam naskah Pembukaan UUD 1945 “Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Pada Hari Raya Kemerdekaan ini kita ingin menegaskan lagi, bahwa kemerdekaan bangsa ini terjadi berkat rahmat Allah yang Maha kuasa. Dengan demikian, sejarah bangsa kita pun menjadi bagian dari sejarah keselamatan Allah. Cinta kepada tanah air merupakan tanggungjawab sejarah untuk mengisi kemerdekaan dengan peradaban kasih.

2. Kita juga bersyukur, bahwa pendiri negeri ini membangun suatu sikap yang arif dan bijaksana dalam memperjuangkan dan melestarikan kemerdekaan Indonesia. Sungguh arif dan bijaksanalah, bila para pemimpin negeri ini mengemban kekuasaan negara untuk melindungi seluruh bangsa dan tumpah darah Indonesia, yakni dengan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan,perdamaian abadi dan keadilan sosial sebagaimana dituangkan dalam prinsip dasar kehidupan negara ini, yakni dalam sila-sila Pancasila.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

3. Sepanjang perjalanan 68 tahun, negeri ini memang telah mengalami banyak kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. Kita saksikan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak dalam kehidupan masyarakat kita. Fasilitas-fasilitas kehidupan modern bagi kehidupan dewasa ini tersedia, dan tidak ketinggalan dari negara-negara sekitarnya. Namun, kita bisa bertanya, untuk siapa kemajuan itu ? Bila kesejahteraan tidak merata bagi seluruh rakyat Indonesia, berarti nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 belum terwujud semestinya. Apa yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan cinta kita kepada tanah air kita?

Ketika negara ini membutuhkan keterlibatan warganya untuk mengisi kemerdekaan, apakah kita peduli pada negeri ini? Jangan sampai kita ikut merusak negeri ini, tanpa malu melanggar hukum dengan terang-terangan, memperparah sakit masyarakat sehingga mati rasa terhadap nilai-nilai moral dan etika. Kita berprihatin, dari waktu kewaktu semakin lemah tenggang rasa antar warga, bahkan agama pun bisa dijadikan alasan untuk membenci, dan dengan kekerasan melukai kerukunan hidup bertetangga warga masyarakat. Ternyata kita belum merdeka dari kuasa dosa yang merajaleladi negeri ini.

Kita sadari bahwa kita masih belum terlibat tuntas mengelola kemerdekaan karena belum sungguh-sungguh mewujudkan cinta kepada tanah air kita.

Mengisi Kemerdekaan dengan Mempertahankan Pancasila

4. Bagi kita para murid Kristus, keteladanan Tuhan Yesus Kristus sebagai penegak kebenaran dan pengajar kebajikan menjadi pegangan utama untuk mewujudkan cinta kepada tanah air dan setia mengisi kemerdekaan Indonesia. Cinta kepada tanah air terwujud dalam kesungguhan kita untuk mempertahakan Pancasila dan UUD 1945. Kesungguhan kita teruji karena dewasa ini kita sadari pula ada usaha-usaha untuk merongrong dasar Negara itu. Kalau dasar Negara rapuh, akan tumbanglah bangunan Negara Republik Indonesia ini.

Dengan cinta kepada tanah air, umat Katolik memilih untuk mengisi kemerdekaan dengan rela melakukan apa yang baik (bdk. 1Ptr 2:13-17), yaitu dengan: membangun persaudaraan - bukan mencerai beraikan; menghormati sesama - bukan merendahkan; mengasihi sesama -bukan menyingkirkan orang lain karena berbeda suku, agama, ras dan golongan. Umat Katolik sebagai warga Negara yang bertanggungjawab memberikan apa yang wajib diberikan kepada Negara, dan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah (bdk. Mat 22:21).

Agustus Bulan Ajaran Sosial Gereja

5. Saudara-saudariku terkasih,

Untuk merawat kesadaran kita, bahwa sejarah bangsa kita pun menjadi bagian dari sejarah keselamatan Allah, kita jadikan bulan Agustus sebagai Bulan Ajaran Sosial Gereja. Pesan pokok Ajaran Sosial Gereja adalah pesan bagi kita semua untuk membangun peradaban kasih.

Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan ajaran penting dari Bapa Suci Paus Fransiskus yang ditulisnya dalam Ensiklik “ LumenFidei ”, Terang Iman, 29 Juni 2013. Bapa Suci menyatakan, bahwa iman adalah terang yang khas, yang mampu menyalakan setiap aspek kehidupan manusia. Bapa Suci menyadarkan kita, semakin kita beriman secara benar, semakin kita tidak melupakan penderitaan dunia, tetapi semakin kita membuka diri pada kenyataan kegelapan dengan kehadiran yang selalu mendampingi, membangun sebuah sejarah kebaikan yang menyentuh setiap kisah penderitaan manusia pada zaman kita.

Kita harus berani menyatakan, bahwa iman akan Kristus adalah sungguh-sungguh baik untuk pembangunan negara ini karena akan menghadirkan terang bagi kebaikan bersama. Iman Katolik justru akan membantu membangun masyarakat kita sedemikian rupa, sehingga bangsa ini dapat melakukan perjalanan menuju masa depan penuh pengharapan. Bapa Suci mengingatkan kita, agar kita mewujudkan iman kita semakin menjadi berkat bagi seluruh bangsa.

Demikian pula sebagaimana diungkapkan dalam semangat ARDAS KAS 2011-2015, bahwa iman yang mendalam dan tangguh akan semakin signifikan dan relevan dalam kehidupan kita sebagai warga Gereja dan masyarakat.Tanggungjawab kita mengisi kemerdekaan dan mewujudkan pembaruan dalam tindakan keterlibatan yang nyata sebagaimana dirumuskan dalam 4 pilar ARDAS KAS, merupakan perwujudan iman akan Allah yang Mahakuasa dan cinta kepada tanah air.

MembangunPeradaban Kasih

6. Saudara-saudariku terkasih,

Saya mengajak Anda sekalian, umat Allah di Keuskupan Agung Semarang agar mengisi kemerdekaan dengan membangun peradaban kasih. Untuk itu hendaknya (1) sejak dalam keluarga perlu ditumbuh-kembangkan rasa cinta kepada sesama dan lingkungan kehidupan di mana Anda berada, agar anak-anak yang kita cintai hidup dalam “peradaban kasih” , memiliki rasa handarbeni (rasa memiliki) dan dimiliki negeri ini. Selanjutnya (2) lembaga-lembaga pendidikan formal perlu mengajarkan pendidikan kebangsaan dan “pendidikan peradaban kasih” yang terencana sebagai isi dari ”Sekolah Cinta Kasih”, agarmemahami nilai-nilai dasar Pancasila dan Ajaran Sosial Gereja. Melalui pendidikan formal yang baik, saya berharap, generasi muda makin memiliki pegangan moral untuk terlibat membangun “peradaban kasih” di negeri tercinta ini. (3) Sangat penting pula bidang-bidang pelayanan dalam Dewan Paroki memberikan ruang dan perhatian khusus bagi kaderisasi agar umat Katolik siap sedia menjadi patriot sejati. Dan tentu saja(4) masyarakat sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya pribadi perlu menghembuskan atmosfir yang mendukung suasana kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik dan benar, Hendaknya kita berani berpegang pada prinsip hidup yang mengutamakan kesejahteraan umum, dengan menghidupi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, sebagai perwujudan cinta kita kepada tanah air secara kritis dan bertanggungjawab.

7. Menuju PEMILU 2014 marilah kita belajar terus agar mampu memaknai peristiwa-peristiwa bangsa sebagai tanda-tanda zaman dalam terang Ajaran Sosial Gereja. Dengan bimbingan hati nurani yang terdidik secara benar kita akan menjadi pemilih yang cerdas dan kritis dalam menentukan pemimpin negeri ini. Dengan demikian kita akan mampu memilih pemimpin yang arif dan bijaksana, rendah hati namun sigap, tegas dan kreatif mengupayakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

8. Akhirnya, marilah kita yang tinggal di negeri ini, yang memiliki tanggungjawab sejarah pada negeri ini, yang dihidupi Tuhan dalam negeri ini, mencintainya, mengisinya dengan kemerdekaan sejati, dengan melakukan segala perbuatan baik yang menghasilkan kebaikan bagi semua.

Selamat dan proficiat atas kemerdekaanyang dikaruniakan Allah kepada kita. Selamat mengisi kemerdekaan dengan peradaban kasih. Dirgahayu, Indonesia! Salam, doa dan Berkah Dalem.

Semarang, 15 Agustus 2013

+Johannes Pujasumarta
Uskup Keuskupan Agung Semarang
KEBIJAKAN PASTORAL DAN MEKANISME-PROSES menuju PROGRAM KERJA DAN RAPB-I PAROKI Th. 2012 
Saturday, December 10, 2011, 07:01 - Pastoral Posted by Administrator

Pengantar

Paroki St. Ignatius mempunyai motto: BERUBAH UNTUK BERBUAH. Motto tersebut merupakan “niat/semangat” (bc. Habitus baru; bdk. hal. 9: “Semoga.. inspirasi, mengilhami dan mengobarkan semangat….”) untuk mewujudkan VISI dan MISI Paroki St. Ignatius (lih. Buku Visi & Misi hal 10-12). Visi dan Misi tersebut perlu dijabarkan dalam program kerja Dewan Paroki.
Paroki St. Ignatius Magelang merupakan bagian dari (sense of belonging) Keuskupan Agung Semarang/KAS (bdk. Pembukaan PPDP, hal. 8). Maka kebijakan atau gerak pastoral KAS mesti juga menjadi gerak pastoral Paroki.

A. KEBIJAKAN PASTORAL

1. Keuskupan Agung Semarang

1.1. Kekhasan Ardas KAS 2011 – 2015

Ardas KAS 2011 – 2015 mempunyai 3 kekhasan yakni: 1). Signifikansi dan Relevansi; 2). Optimalisasi peran kaum awam; dan 3). Sinergis karya Pastoral.

1.2. RoadMap Tahun 2012

Ardas KAS 2011 – 2015 tidak menggunakan focus pastoral tahunan berdasarkan segme/kelompok, seperti Ardas sebelumnya melainkan menggunakan peta jalan atau yang sering disebut roadmap, yang menjadi garapan sepanjang 5 tahun.
RoadMap Ardas KAS berisi 4 tema garapan, yang sering disingkat dengan P4, yakni: 1). Pengembangan Iman yang Mendalam dan Tangguh; 2). Peningkatan Peran Kaum Awam; 3). Pemberdayaan KLTMD, Abk; dan 4). Pelestarian Keutuhan Ciptaan.


1.3. Perjalanan Ardas KAS 2011 – 2015

Tahun 2012 merupakan tahun kedua perjalanan Ardas KAS 2011 – 2015. Meskipun tahun 2011, yakni tahun Konsientisasi dan Pendataan sudah berakhir namun tentu bukan berarti sudah sempurna begitu saja. Bahkan konsientisasi itu juga masih perlu diperdalam lagi (bdk. 16 Tema Konsientisai Ardas Kas 2011 – 2015). Begitu pula pendataan yang sudah terjadi, selain masih selalu harus diperbaharui, sudah dapat juga dipakai dasar program kerja Dewan paroki 2012 (bdk. Presentasi hasil penkdataan oleh Litbang).
Pada tahun 2012 ini yang menjadi tekanan garapan/focus dalam P4 tersebut adalah: 1). Pembelajaran pokok-pokok iman dan keintiman dengan Allah; 2). Civic education dan kaderisasi; 3). Pemberdayaan (karitatif-edukatif-animatif) KLMTD; dan 4). Edukasi-animasi komunitas-komunitas untuk penyelamatan keutuhan ciptaan.

2. Paroki St. Ignatius Magelang

2.1. Visi Misi Paroki St. Ignatius Magelang

Paroki St. Ignatius Magelang mempunyai buku saku VISI MISI (bdk. Jangan-jangan sudah tidak pernah dibaca atau malah hilang atau ketlingsut). Saya cenderung mengatakan bahwa buku tersebut juga menjadi semacam ARDAS Paroki St. Ignatius Magelang 2009 - 2014. Bagaimana buku tersebut digunakan? Bisa dilihat dan dibaca dalam Kata Sambutan alinea 2 dan 3 halaman 3, yang kalimat kuncinya adalah “…..mengarahkan segala gerak, langkah program dan pemikiran untuk mewujudkan cita-cita yang ingin kita capai di masa yang akan datang…”

2.2. Tekanan Tahun 2012

Dalam buku Visi Misi Paroki St. Ignatius Magelang halaman 59 no. 5 disebutkan bahwa tekanan pastoral untuk tahun 2012 adalah Mengintensifkan Karya-Karya Gereja. Karya-karya gereja itu meliputi Liturgi, Kerygma/Pewartaan, Diakonia/Pelayanan Kemasyarakatan, Koinonia/ Persekutan dan Martiria (bdk. semangat/spritualitas bagi keempat karya sebelumnya).
Pertanyaan mendasar adalalah bagaimana karya-karya tersebut diintesifkan atau dioptimalkan untuk P4 dengan fokusnya di tahun 2012?
Alinea pertama dan kedua pada no. 4 tadi sangat jelas menunjuk soal signifikansi dan relevansi bagi umat, ….. agar karya Gereja semakin menyentuh dan menjawab persoalan umat..” (baca. warganya dan masyarakat). Bahkan juga dengan jelas menunjuk soal focus garapan Ardas Kas, …..pencerdasan dan pencerahan dengan pembinaan dan penyegaran terus menerus akan meningkatkan mutu iman umat” (bdk. Peningkatan Iman yang mendalam dan tangguh).

3. Keuangan atau Anggaran

3.1. Kebijakan Keuangan/Anggaran

Kebijakan keuangan/anggaran kegiatan-Program mengacu pada Memo Paroki St. Ignatius Magelang no. 01/B/PKP/I/10 dengan beberapa catatan atau koreksi/revisi dalam perjalanan waktu (bdk. Hasil Rapat tgl. 12 dan 26 Januari 2011). Koreksi itu antara lain terdapat dalam;

3.1.1. No. 1.5.1. Soal Kepanitiaan
Untuk menghindari pencarian dana yang hanya kepada pihak-pihak tertentu saja, maka buku panduan liturgy hari raya tidak menggunakan iklan. Panduan liturgi langsung ditangani oleh tim kerja liturgy dan peribadatan (bdk. Iklan hanya dua halaman yang dikoordinasi oleh Bendahara Paroki). Ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan keterlibatan dan partisipasi wilayah yang menjadi panitia, sekaligus agar lebih berkonsentrasi dalam mempersiapkan pelaksanaan hari raya tersebut. Tentu dewan paroki tidak akan berdiam saja ketika ada hal yang memberatkan atau kesulitan dalam soal pembiayaan; masih selalu dapat dibicarakan bersama.
Iklan akan dioptimalkan bilamana ada penerbitan buku kenangan dalam kerangka ulang tahun paroki. Maka memo no. 1.5.1. sudah tidak berlaku lagi.

3.1.2. Pemanfaatan DanPamis dan 25 % APP Paroki
Dana papa miskin (DanPamis) lebih dimanfaatkan untuk bantuan yang bersifat karitatif dan 25% APP Paroki dimanfaatkan untuk pemberdayaan (bdk. Kriteria dan Alokasi Penyaluran/Penggunaan Dana, tgl. 1 Januari 2011).
Maka memo no. 3.2.2. dan 3.2.3. sudah tidak berlaku lagi.

3.1.3. Perhatian terhadap Pendidikan Calon Imam/Seminari
Kolekte Jumat I digunakan untuk sumbangan ke Seminari, namun tidak hanya untuk Seminari Mertoyudan tetapi juga untuk Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, yakni dengan per semester. Maka memo no. 4.1. sudah tidak berlaku lagi.

3.2. Penggalangan Dana
3.2.1. Ngamen
Paroki memberi kesempatan pihak lain untuk menggalang dana dalam Perayaan Ekaristi, entah untuk pembangunan gereja atau yang lain, maksimal dua kali dalam setahun, yakni bulan Mei dan November. Adapun jadwal dapat diatur bersama dan atau oleh tim kerja paduan suara.

3.2.2. Proposal
Kalau ada pihak luar (Romo atau awam) mencari dana ke umat melalui jalur lingkungan atau wilayah harus sepengetahuan/ijin Romo Paroki, kecuali sifatnya pribadi. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

3.3. Penetapan Anggaran tahun 2012

Dalam rapat tim khusus tanggal 19 Oktober 2011 dan atas dasar pertimbangan Ketua dewan paroki ditetapkan besarnya anggaran sebagai berikut;
3.3.1. Konsumsi: minum+snack sebesar Rp 4.000,- dan makan sebesar Rp. 8.000,-
Nb. Pertemuan/rapat yang tidak lebih dari 2,5 jam atau tidak melewati jam makan siang (Pk. 12.30) atau jam makan malam (Pk. 19.00) cukup snack saja atau dapat juga makan saja

3.3.2. Kepanitiaan
Anggaran untuk kepanitian dinaikan 10% dari anggaran tahun 2011, kecuali Panitia Misa Arwah. Anggaran untuk; Natal (22 juta); Paska (27,5 juta); HUT (13,75 juta); Arwah (7,5 juta); Imlek dan Sura (3,85 juta)
3.3.3. Nara Sumber: (A: 1 juta; B: 500 ribu; C: 250 ribu)
3.3.4. Transportasi: 1 liter per 10 Km


B. MEKANISME-PROSES menuju PROGRAM KERJA DAN RAPB 2012

1. Penyusunan Program Kerja dan Anggarannya

Proses penyusunan progam kerja itu melalui beberapa tahap, yakni;

1.1. Rabu, tanggal 16 November 2011: Pk. 18.00 – 20.00 WIB

• Visi & Misi Paroki St. Ignatius (bdk. Bpk. FX. Sarkum)
• Ardas KAS 2011- 2015 – RoadMap Prioritas Pastoral Ardas/P4 (bdk. Rm. FX. Krisno Handoyo, Pr)
• Format Blangko Programasi dan Penjelasan Kolomnya (bdk. Rm. FX. Krisno Handoyo, Pr; Sekretariat)

1.2. Sabtu-Minggu, tanggal. 10 - 11 Desember 2011 di Parakan:

• Hasil Pendataan Umat dan Pendataan Ardas (bdk. Bpk. FX. Sugiyanto, Lit-Bang)
• Rekomendasi Program Kerja Visioner berdasarkan Roadmap Ardas KAS (bdk. Rm. YS. Slamet Witokaryono, Pr)

1.3. Paska Rapat Kerja di Parakan

Tim Kerja dan atau bersama Ketua Bidangnya memulai penyusunan program kerja dan anggaran tahun 2012, yakni
• Kegiatan rutin seperti rapat-rapat
• Program kerja khusus/khas tim kerja bersangkutan (eg. Timja Sakramen Inisiasi: Pelaksanaan baptisan bayi)
• Program Kerja Visioner, berdasarkan rekomendasi hari ini, yakni berkaitan dengan P4 (bdk. Program kerja yang mendukung Ardas KAS)

Program kerja tersebut diserahkan langsung atau melalui ketua bidang kepada sekretariat (Bpk. Handoko atau Bpk. Pamungkas) paling lambat tanggal tanggal 8 Januari 2012 (bdk. meski masih ada ruang program atas dasar masukan rekomendasi/hasil Tepas)
1.4. Rabu, tanggal 11 Januari 2012: Pk. 18.00: Rapat Dewan Harian Paroki
• Progress Report penyusunan program kerja dan anggarannya
• Ketua bidang mengawal penyusunan program tim kerjanya
• Persiapan Laporan tahunan (bdk. PPDP Bab III Ps. 8 no.4); Wakil Ketua II dan Sekretariat untuk karya pastoral serta Bendahara (+ Bpk. Pamungkas) untuk laporan keuangan tahunan.

1.5. Rabu-Jumat, tanggal 18 – 20 Januari 2012: Temu Pastoral Kevikepan
• Yang hadir semua Romo Paroki (3) dan wakil Litbang (2), Pewartaan (1) dan Pelayanan Kemasyarakatan (1)
• Rekomendasi program sebagai paroki, bagian rayon dan atau kevikepan.

1.6. Rabu, tanggal 25 Januari 2012: Pk. 18.00 WIB > Rapat Dewan Inti plus Para Ketua Lingkungan dan Ketua Kelompok Kategorial;
Masukan Tepas dan Paparan Umum Program Kerja Visioner
Nb. Dua Minggu ke depan ada pendampingan per bidang untuk mencermati program kerja (bdk. salah satu harinya pada no. 1.7)

1.7. Rabu tanggal. 1 Februari 2012, Pk. 18.00 WIB > Rapat Tim Khusus
Mencermati Program Kerja dan RAPB-I 2012 dan Persiapan Narasi Program Kerja dan RAPB-I 2012

1.8. Rabu, tanggal 8 Februari 2012 : Pk. 18.00 WIB > Rapat Dewan Harian; Pemantaban dan Finalisasi Program Kerja dan RAPB-I 2012 dan Laporan Reksa Pastoral 2011

1.9. Minggu, tanggal 12 atau 19 Februari 2012, Pk. 10.00 WIB > Rapat Dewan Pleno (bdk. PPDP Bab. III Ps. 22).
• Laporan Pertanggungjawaban Reksa Pastoral 2011 (bdk. Hasil monev tgl.19 Oktober 2011; Bpk. Sarkum; PPDP Bab. III Ps. 22 )
• Pengesahan Program Kerja dan RAPB-I 2012
Nb. Tgl. 15 Februari 2012; Rapat Dewan Inti dipakai sebagai Finalisasi Program Kerja dan RAPB-I 2012

Program Kerja dan RAPB-I 2012 Paroki St. Ignatius Magelang dikirim ke Keuskupan Agung Semarang paling lambat akhir bulan Februari 2012 dan sekaligus Laporan Tahunan reksa pastoral 2012.
Nb. * Program Kerja yang harus berjalan di bulan Januari-Februari tidak harus menunggu pengesahan Program Kerja dan RAPB-I Paroki 2012 (diketahui dan disetujui oleh Ketua bidang dan Romo Pendamping)

2. Pendukung Pelaksanaan Program Kerja

2.1. Agenda Pastoral Paroki Tahun 2012
Untuk memastikan bahwa lingkungan/wilayah mendapat pelayanan maka dibuat Agenda Pastoral Paroki Tahun 2012.

2.1.1. Hari Senin dan Jumat dijadwalkan untuk lingkungan-lingkungan
• Jadwal akan dilayani oleh Rm. Pendamping (bdk. Kalau Rm. Pendamping tidak bisa akan mencari waktu lain atau mengadakan pembicaraan dengan lingkungan yang bersangkutan; kalau ketua/ pengurus lingkungan diam saja berarti tidak mengunakan jadwal, alias menolak berkat he he)
• Sebaiknya tidak digunakan untuk misa tetapi untuk kunjungan, sarasehan, atau apa saja yang lebih berguna untuk pembinaan umat lingkungan (bdk. Mendukung Ardas KAS dengan P4-nya)
• Untuk misa ujub (arwah dan syukur atau yang lain); pertama-tama menghubungi Rm. Pendamping. Apabila Rm. Pendamping tidak bisa, baru menghubungi Romo yang lain.
• Permohonan ujub waktunya bebas, namun sebaiknya jangan hari Rabu, karena menjadi hari khusus untuk rapat-rapat baik Dewan harian, Inti maupun rapat-rapat yang lain.

2.1.2. Untuk Kepentingan Wilayah:
• Pelayanan untuk misa arwah pada bulan November
• Pelayanan untuk penerimaan Sakramen Tobat pada masa Prapaskah, yang akan dilayani oleh dua atau tiga Romo.
• Untuk HUT Wilayah, kawil/pengurus langsung berhubungan dengan Rm. Pendamping

2.1.3. Pelayanan Sakramen Tobat ; Prapaskah di wilayah/lingkungan dan Advent di gereja, yakni gabungan wilayah; sementara untuk sekolah-sekolah di gereja (bdk. Mohon perhatian untuk prodiakon dan para ketua wilayah dan lingkungan)

2.2. Jadwal Panitia Hari Besar/Raya
> Th. 2012: Pekan Suci (Monika); HUT Paroki (Margareta); Arwah (Cornelius); Natal (Gregorius).
> Th. 2013: Pekan Suci (Geovani); HUT (Paulus); Arwah (Robertus); Natal (Rafael).
> Th. 2014: Pekan Suci (Theodhorus); HUT Paroki (Maria), Arwah (Yohanes); Natal (Katarina)
> Th. 2015: Pekan Suci (Cornelius), HUT Paroki (Carolus); Arwah (Monika): Natal (Margareta)

2.3. Pembagian Pendampingan
Demi optimalisasi perhatian dan pelaksanaan karya pastoral maka dibagi pendampingan di antara para Romo Paroki, baik menyangkut soal teritorial maupun bidang/kelompok.
Nb. Semua wilayah dan bidang menjadi tanggung jawab pastor kepala (bdk. Job-Des Pastor Kepala KAS 2009, hal. 7-14) dan wakil Ketua II dari awam, yang dibantu wakil I, para pastor pembantu

2.3.1. Pembagian Pendampingan pelayanan Teritorial/Wilayah:
* Rm. Aly. Martoyoto, Pr : Carolus, Geovani, Gregorius, Monika dan Yohanes;
* Rm. FX. Krisno Handoyo, Pr : Cornelius, Paulus, Theodorus;
* Rm. Y. Slamet Witokaryono Pr: Katarina, Margareta, Maria, Rafael dan Robertus.

2.3.2. Pembagian Pendampingan Bidang atau sektoral

 Rm. Aly. Martoyoto, Pr;
+ Bidang Pewartaan dan Paguyuban dan Tata Organisasi (- Kaum Muda)
+ Korwil dan Kelompok-Kelompok Kategorial
+ Karyawan Paroki dan Pastoran
 Rm. FX. Krisno Handoyo, Pr;
+ Bidang Pelayanan Kemasyarakatan dan Sar-Pras
+ Moderator Kursus Hidup Berkeluarga
+ Pembuatan Agenda/Jadwal Pelayanan dan Historia Domus
 Rm. YS. Witokaryono, Pr;
+ Bidang Liturgi-Peribadatan dan Penelitian dan Pengembangan
+ Supervisor Kantor Sekretariat Paroki (Administrasi, baik sekretariat maupun audit internal/akuntasi keuangan) dan Historia Parocae
+ Pengembangan dan Optimalisasi seperti website dan Pendalaman Kitab Suci

2.4. Agenda Rutin – Kalender Liturgi; Masa Pra-Paska – Paska s/d Natal

• Tgl. 18 – 25 Januari ; Hari Pekan Doa Sedunia
• Tgl. 22 Februari : Rabu Abu (Awal masa pra paska; pantang dan puasa) – Aksi Puasa Pembangunan (APP)
• Tgl. 1 - 8 April : Pekan Suci
• Bulan Mei : Bulan Maria-Katekese liturgi
• Tgl. 17 Mei : Hari Raya Kenaikan Tuhan
• Tgl. 10 Juni : Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (Komuni I)
• Tgl. 31 Juli: Pelindung Paroki; St. Ignatius Loyola
• Bulan Agustus : Bulan Ajaran Sosial Gereja
• Bulan September : Bulan Kitab Suci
• Bulan Oktober : Bulan Rosario – Hari Pangan Sedunia (HPS)
• Bulan November : Tgl. 2: Peringatan Arwah Semua Orang Beriman
• Tgl. 2 Desember : Masuk Adven – Natal
Nb. Pembekalan/sosialisasi bahan (Prapaskah, BKL, Advent) ikut di kevikepan


C. PERISTIWA-PERISTIWA PENTING

1. Umum

1.1. Tahun Iman 2012 – 2013
Tahun iman ditetapkan oleh Paus Benedictus XVI. Tahun Iman dimulai pada tanggal 12 Oktober, 50 tahun dibukanya Konisili Vatikan II, dan diakhiri pada tanggal 24 November 2013, Hari Raya Krists Raja Semesta Alam.

1.2. Konggres Ekaristi Keuskupan II Keuskupan Agung Semarang
Konggres Ekaristi Keuskupan II Keuskupan Agung Semarang diselenggarakan di Ganjuran, Yogyakarta, pada tanggal 22 – 24 Juni 2012 dengan tema “Tinggal dalam Kristus dan Berbuah”.

2. Khusus

2.1. Pesta Perak Lima Romo Unio

Ada kemungkinan paroki menjadi tuan rumah/pelaksana Pesta Perak Para Romo Unio (Rm. Aly. Martoyoto, Pr, Rm. Joko Sistiyanto, Pr, Rm. Willem Pau, Rm. Ant. Tri Wahyono, Pr, Rm. Yak. Sudarmadi, Pr) pada awal September 2012. Romo yang kedua dan ketiga dahulu berasal dari Paroki St. Ignatius Magelang, namun pada saat mereka ditahbiskan, paroki sudah mengalami pemekaran, yakni Paroki St. Mikael Pancaarga dan St. Maria Fatima Magelang.

2.2. Tahun Terakhir Kepengurusan

Tahun 2012 merupakan tahun terakhir kepengurusan dewan paroki. Maka baik kiranya kalau pengurus dewan harian maupun koordinator tim kerja dan lingkungan sudah mulai memikirkan kaderisasi, meski bukan berarti harus diganti semua. Misalnya apakah mungkin masing-masing tim kerja mulai tahun 2012 mengajak minimal satu orang untuk ikut terlibat di dalam tim kerjanya.

Penutup

Selamat menyusun program kerja tahun 2012, yang akan disempurnakannya pada hari Rabu tgl. 25 Januari 2012. Program kerja dan RAPB-I tersebut hendak dimohonkan pengesahan pada rapat Dewan Pleno hari Minggu tanggal 12 atau 19 Februari 2012, sekaligus laporan pertanggung-jawaban program kerja tahun 2011.
Akhirnya semoga Allah yang telah memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp. 1:6). Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG; Amrih Mulya Dalem Gusti).

Pastoran St. Ignatius tgl, 10-11 Desember 2011
Berkah Dalem


FX. Krisno Handoyo, Pr


MERANGKAI BUNGA ALTAR 
Tuesday, June 8, 2010, 20:56 - Pastoral Posted by Administrator
Merangkai bunga altar merupakan salah satu tugas liturgi, yaitu menjadikan tempat dirayakannya liturgi menjadi lebih indah sehingga mendukung kemeriahan perayaan liturgi. Agar rangkaian bunga altar tidak sekedar indah, seorang perangkai perlu memahami kaidah-kaidah liturgi. Dengan demikian, rangkaian bunga altar juga turut memperjelas misteri iman yang dirayakan.

1. Pengertian liturgi
Dalam SC 2, 7, 10, disebutkan bahwa liturgi adalah suatu perayaan misteri keselamatan Allah. Liturgi dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus. Karenanya liturgi dapat disebut sebagai perayaan Tuhan dan perayaan iman. Disebut perayaan Tuhan karena Allah yang berinisiatif menjumpai manusia. Allah yang mencari dan mengundang; bukan manusia yang mencari Allah. Dan disebut perayaan iman, karena dalam liturgi manusia menanggapi undangan Tuhan untuk terlibat dalam perjamuan-Nya. Dengan demikian, dalam liturgi terjadilah sebuah perjumpaan, yaitu perjumpaan antara Allah dan manusia. Perjumpaan itu membawa anugerah keselamatan bagi manusia, baik yang yang merayakan dan yang didoakannya.
Dilihat dari isinya, liturgi mengandung unsur dialogis, epiklesis, anamnesis dan simbolik. Unsur dialogis menegaskan aspek perjumpaan atau komunikasi antar dua belah pihak secara dialogal, yaitu komunikasi antara Allah dan manusia. Komunikasi itu dari pihak Allah mendatangkan keselamatan, pengudusan dan penebusan untuk manusia (katabatis), sedangkan dari pihak manusia mengungkapkan pujian dan kemuliaan kepada Allah (anabatis). Unsur anamnesis menegaskan aspek kenangan, yaitu kenangan akan karya penyelamatan Tuhan yang terjadi pada masa lalu dan berlangsung sampai sekarang. Dalam liturgi, apa yang dikenang itu dihadirkan kembali dalam kehidupan jemaat yang merayakan dan bergerak menuju kepenuhan eskatoligis. Unsur epiklesis menegaskan peranan Roh Kudus dalam liturgi. Roh Kudus itulah yang menguduskan suatu pribadi atau barang/benda tertentu. Dengan aspek ini, liturgi dibebaskan dari bahaya magis, karena setiap pengudusan terjadi karena campur tangan Tuhan dalam Roh Kudus. Sedangkan unsur simbolik menegaskan suatu keyakinan bahwa kehadiran Kristus dan karya penyelamatanNya dalam liturgi selalu merupakan kehadiran dalam bentuk tanda atau simbol. Melalui dan dalam simbol itu, tersembunyi dan terungkap apa yang disimbolkan yaitu realitas kehadiran Kristus yang menyelamatkan. Dalam liturgi cukup banyak simbol, dari simbol yang berupa diri manusia sendiri yaitu para pelayan dan jemaat liturgi sendiri, tindakan dan gerak geriknya hingga seluruh dunia simbol yang bukan manusia yaitu sarana-sarana liturgi baik yang berupa alat maupun bahan yang dipakai. Ada yang alami seperti api, air, dupa, tanaman, bunga dan ada pula yang buatan (busana dan perabot lainnya). Sarana-sarana itu menyatakan misteri iman yang dirayakan.
Dilihat dari kegiatannya, liturgi memiliki unsur kebersamaan dan keresmian. Unsur kebersamaan liturgi nampak dalam kehadiran umat. Setiap perayaan merupakan perayaan jemaat/umat. Jemaat yang hadir bukan penonton tetapi dipanggil berpartisipasi secara sadar, dan penuh yakni berpartisipasi dengan jiwa dan raganya serta dikobarkan dengan iman, harapan dan kasih. Unsur keresmian liturgi nampak dari adanya ketentuan-ketentuan, aturan-aturan atau pedoman yang ada. Ada unsur-unsur baku yang harus ditaati dan ada unsur-unsur penyesuaian yang bisa dikembangkan sesuai dengan situasi dan kemampuan. Secara umum pedoman liturgi mengacu pada Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR). Di dalamnya ada petunjuk umum untuk menata perayaan Ekaristi secara tepat dan menyediakan pedoman untuk mengatur masing-masing bentuk perayaan.
Dengan demikian liturgi bukan sembarang kegiatan, juga bukan sembarang perayaan. Suatu kegiatan atau perayaan disebut liturgi, kegiatan dan perayaan itu mengandung unsur dialogis, anamnesis, epiklesis, simbolik sebagai isinya dan mengandung unsur kebersamaan dan keresmian sebagai kegiatannya. Hal ini perlu diketahui oleh semua umat yang merayakannya, terutama para petugas liturgi, sehingga mereka tidak bertindak menurut kehendak sendiri, tetapi bertindak menurut kaidah dan ketentuan yang berlaku.

2. Merangkai Bunga Altar
Merangkai bunga altar merupakan salah satu kegiatan liturgis yaitu kegiatan untuk menciptakan agar liturgi menjadi indah dan meriah. Telah lama bunga dikenal bernilai simbolis. Kalau seseorang memberi bunga kepada orang lain, dengan cepat tindakan itu dilihat sebagai sebuah ungkapan, yaitu ungkapan cinta dan perhatian. Kalau bunga yang diterima itu disimpan dan dicium artinya cinta itu diterima. Tetapi kalau bunga itu dibuang, ini menjadi sebuah pertanda bahwa cintanya ditolak. Kecuali itu masing-masing bunga juga memiliki nilai dan maknanya sendiri. Orang akan berbunga-bunga ketika diberi bunga mawar, tetapi orang mungkin akan marah kalau diberi bunga kamboja.
Hal yang sama juga terjadi dalam liturgi. Bunga altar tidak hanya melambangkan keindahan, tetapi juga mengandung makna rohani yang lebih dalam. Di satu sisi bunga melambangkan tanggapan yang penuh sukacita atas karya penyelamatan Tuhan yang berlangsung secara liturgis. Dan disisi lain bunga juga turut menghadirkan secara simbolik misteri iman yang dirayakan. Oleh karena itu dalam merangkai bunga, orang perlu memperhatikan aspek-aspek liturgi. Dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) disebut beberapa nomor yang membahas tentang bunga altar.
- Rumah ibadat, tempat Ekaristi dirayakan dan segala perlengkapannya hendaknya sungguh pantas, indah serta merupakan tanda dan lambang alam surgawi (PUMR 288).
- Dari sebab itu Gereja selalu mengharapkan sumbangan para seniman dan memberikan keleluasaan kepada kesenian segala bangsa serta daerah. Memang, Gereja berusaha memelihara karya seni dari abad-abad yang lalu dan menyesuaikan seperlunya dengan tuntutan zaman, namun ia berusaha juga memajukan bentuk-bentuk baru yang serasi dengan semangat zamannya. Oleh karena itu dalam mendidik para seniman dan dalam memilih karya-karya seni untuk gereja, hendaknya dituntut yang sungguh bermutu. Sebab seni itu harus membantu memperdalam iman dan kesucian, harus selaras dengan kebenaran yang mau diungkapkan dan mencapai tujuan yang dimaksud (PMUR 289).
- Hiasan Gereja hendaknya bermutu, anggun tetapi tetap sederhana. Bahan untuk hiasan hendaknya asli. Seluruh perlengkapan gereja hendaknya mendukung pendidikan iman umat serta martabat ruang ibadat (PUMR 292)
- Panti imam adalah tempat di mana altar dibangun, sabda Allah dimaklumkan dan imam, diakon, serta pelayan-pelayan lai melaksanakan tugasnya. Panti imam hendaknya sungguh berbeda dari bagian gereja lainya, entah karena lebih tinggi sedikit, entah karena rancangan dan hiasannya (PUMR 295)
- Altar merupakan tempat untuk menghadirkan kurban salib dengan menggunakan tanda-tanda sakramental. Sekaligus altar merupakan meja perjamuan Tuhan, dan dalam Misa umat Allah dihimpun di sekeliling altar untuk mengambil bagian dalam perjamuan itu. Kecuali itu altar juga pusat ucapan syukur yang diselenggarakan dalam Perayaan Ekaristi (PUMR 296).
- Untuk menghormati perayaan-perayaan akan Tuhan serta perjamuan Tubuh dan Darah Kristus, pantaslah altar ditutup dengan sehelai kain altar berwarna putih (PUMR 304).
- Dalam menghias altar hendaknya tidak berlebihan. Selama masa adven penghiasan altar dengan bunga hendaknya mencerminkan ciri khas ini (masa penantian penuh sukacita), tetapi tidak boleh menggunakan sepenuhnya sukacita kelahiran Tuhan. Selama masa prapaskah altar tidak dihias dengan bunga, kecuali pada hari minggu prapaskah IV, hari raya dan pesta yang terjadi pada masa ini. Hiasan bunga hendaknya tidak berlebihan dan ditempatkan di sekitar altar, bukan di atasnya. Di altar hendaknya ditempatkan hanya barang-barang yang diperlukan untuk perayaan misa (PUMR 306).
- Lilin diperlukan dalam setiap perayaan liturgi untuk menciptakan suasana khidmat dan untuk menunjukkan tingkat kemeriahan perayaan. Lilin seyogyanya ditempatkan di atas atau di sekitar altar, sesuai dengan bentuk altar dan tata ruang panti imam ( PUMR 307).

Dari PUMR itu kita dapat melihat bahwa merangkai bunga tidak sekedar merangkai menurut kehendaknya sendiri, tetapi ada ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan.
1. Keindahan, kepantasan dan mutu rangkaian. Rangkaian bunga bukan syarat mutlak dalam liturgi. Artinya dalam situasi tertentu seandainya tidak ada rangkaian bunga, tidak mempengaruhi keabsahan liturgi. Tetapi adanya rangkaian bunga untuk mendukung suasana perayaan liturgi. Diharapkan adanya rangkaian bunga menambah keindahan dan kemeriahan liturgi. Yang menjadi ukuran kemeriahan dan keindahan liturgi bukan karena bunga-bunga yang dirangkai harganya mahal tetapi karena turut membantu memperdalam iman dan kesucian serta turut mengungkapkan misteri iman yang dirayakan. Oleh karena itu para petugas perangkai bunga, hendaknya tidak sekedar relawan, tetapi betul-betul dituntut kemampuan dan ketrampilannya dalam merangkai bunga serta dibutuhkan pengetahuan yang cukup mengenai liturgi, khususnya terkait dengan tata ruang liturgi.
2. Keaslian dan kesederhanaan. Hiasan altar hendaknya tetap memperhatikan keaslian dan kesederhanaan. Asli artinya bunga yang dirangkai bukan bunga imitasi, tetapi asli dari tanaman yang hidup, sebab bunga berperan tidak sekedar sebagai hiasan tetapi juga mengungkapkan suatu keyakinan bahwa semua makhluk hidup dan semua ciptaan Tuhan turut berbakti dan memuji Allah. Sedangkan sederhana artinya memanfaatkan apa yang ada, tidak berlebihan dalam mengusahakan dan proporsional dalam mengusahakannya. Jangan sampai ada kesan bahwa bunga altar mewah berlebihan baik dari sisi harga maupun banyaknya rangkaian sehingga mengaburkan yang utama yaitu altar sebagai tempat perjamuan Tuhan. Namun juga tidak terkesan sederhana murahan. Idealnya, meskipun rancangan tampak sederhana, namun tetap mencitrakan keindahan yang anggun, penuh makna.
3. Liturgis. Perangkai bunga hendaknya menyadari bahwa dirinya adalah pelayan liturgis. Ia tidak bisa bekerja sesuka dan seselera pribadi. Apapun yang dilakukan hendaknya sesuai dengan makna dan norma liturgis yang dirayakan sehingga antara rangkaian bunga dan liturgi ada keutuhan dan kesesuaian. Salah satu hal yang perlu diketahui adalah pesan misa sesuai dengan bacaan Kitab Suci, masa-masa liturgi, warna dan semangatnya. Masa adven tentu berbeda dengan masa natal, masa prapaskah tentu berbeda dengan masa paskah, masa biasa berbeda dengan masa-masa khusus. Prinsip umum, pada Masa Adven dan Prapaskah, bunga altar hendaknya sederhana, tanpa warna-warni, untuk menampakkan keprihatinan dan sekaligus harapan. Pada masa prapaskah, bunga bisa ditiadakan. Pada Masa Biasa, bunga altar tidak ada ketentuan khusus tetapi memperlihatkan aspek pengharapan dan sukacita. Akan lebih baik kalau sebelum merangkai melihat kalender liturgi sehingga Sedangkan pada hari-hari raya besar seperti Natal, Paskah bunga altar hendaknya memperlihatkan kemeriahan, suasana sukacita.
4. Dekoratif. Bunga altar berperan sebagai dekorasi, yaitu sebagai pendukung untuk menciptakan suasana liturgi. Adanya bunga altar diharapkan membantu umat untuk semakin memahami dan menghayati liturgi dan segala simbol yang ada. Altar sebagai pusat dari perayaan dihias sedemikian rupa sehingga memungkinkan orang untuk memahami perjamuan ekaristi sebagai perjamuan Tuhan. Oleh karena itu, sebagai dekorasi, fungsi bunga altar tidak boleh mengganggu arti penting altar atau segala simbol yang lain yang lebih utama, apalagi sampai menggeser perhatian umat dari altar dan simbol-simbol itu ke bunga altar.
5. Inkulturatif. Setiap orang yang merangkai bunga untuk gereja hendaknya ia mengenal unsur-unsur budaya setempat. Apa yang dibuat dengan rangkaian itu hendaknya mewakili rasa perasaan umat setempat dan sejauh mungkin menggunakan sarana yang ada di tengah umat. Dengan lain kata umat dengan segala kehidupan dan perasaannya dihargai lewat rangkaian bunga sehingga bunga merupakan representasi diri umat. Maka idealnya, perangkai bunga mengenal terlebih dahulu karakter, keadaan, harapan umat yang turut serta dalam perayaan tersebut.
6. Koordinatif. Perangkai bunga hendaknya jangan bekerja sendiri, tetapi bekerja dalam satu koordinasi baik koordinasi antar mereka sebagai tim kerja tata altar maupun koordinasi dengan tim kerja lain yang terkait dengan tugas perangkai bunga altar. Kerap terjadi benturan kepentingan antar tim kerja tata altar dengan tim lain ketika koordinasi dan kerjasama tidak ada.
7. Pelayanan. Semangat yang hendaknya menjiwai para petugas perangkai bunga altar adalah semangat pelayanan. Maka keakuan dalam ide dan karya hendaknya dihindari dan diganti dengan kerjasama dengan semangat pelayanan. Hendaknya dihindari gereja sebagai tempat untuk mencari keuntungan dari setiap karya yang dijalankan. Semangat tim kerja adalah semangat pelayanan maka, siapapun yang meminta pelayanan, hendaknya dilayani dengan murah hati.

3. Membangun liturgi yang hidup
Semua umat dipanggil untuk berpartisipasi secara sadar dan aktif dalam liturgi. Menurut Pius XII dalam ensiklik Mediator Dei (1947) partisipasi umat dalam liturgi meliputi tiga hal, yaitu partisipasi batin atau penghayatan pribadi, partisipasi lahir yaitu keikutsertaan dalam berbagai tugas dan partisipasi sakramental yang terwujud dalam penerimaan komuni.
Partisipasi umat itu memungkinkan terciptanya liturgi yang hidup. Ada tiga ciri khas liturgi yang hidup: pertama, mampu mengantar semua umat untuk mengalami kehadiran dan perjumpaan dengan Tuhan. Umat semakin sadar bahwa dalam liturgi bukan sekedar perayaan ritual formal, tetapi perayaan Tuhan. Tuhan hadir dan memberikan diri seutuhnya. Kedua, melibatkan semua umat yang hadir untuk berpartisipasi dalam aneka tugas liturgi. Liturgi bukan perayaan seorang atau sekelompok orang, tetapi perayaan umat artinya perayaan yang mengikutsertakan semua umat untuk berpartisipasi di dalamnya. Umat bukan penonton atau penilai, tetapi umat adalah pemain dan pelaksana dalam seluruh liturgi. Sebagai pemain, umat diharapkan terlibat dengan sepenuh hati sebagai wujud persembahan diri, sehingga yang ia berikan tidak asal-asalan tetapi yang terbaik. Kalau koor bernyanyi ya bernyanyi sebaik mungkin, kalau misdinar tugas ya tugas dengan sepenuh hati, kalau perangkai bunga menata bunga ya ditata dengan sebaik mungkin. Dengan demikian apapun yang dilakukan semuanya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan apapun yang dipersembahkan, yang dipersembahakan adalah yang terbaik.
Ketiga, dilakukan secara benar, menarik dan kontekstual. Benar artinya memperhatikan ketentuan-ketentuan liturgis. Kreasi umat tentu sangat didukung, asalkan tetap memperhatikan unsur liturgi yang benar. Menarik artinya apapun yang disajikan memberi kepuasan hati pada semua umat yang merayakannya. Umat tidak hanya melihat, mendengarkan tetapi merasakan makna yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian kalau umat pulang ada sesuatu yang dibawa dan akhirnya mendorong lagi untuk mengikuti perayaan di waktu-waktu berikutnya. Kontekstual artinya perayaan dirayakan sesuai dengan konteks dan situasi setempat sehingga segala rasa perasaan, harapan dan keprihatinan umat dapat terangkat dalam liturgi.
Kalau dikaitkan dengan rangkaian bunga altar, seorang perangkai bunga juga dituntut suatu idealitas bahwa apapun yang dilakukan, semuanya dilakukan dengan sepenuh hati untuk kemuliaan Tuhan. Melalui tugasnya ia dipanggil untuk ikut memperindah liturgi dan menciptakan suasana sukacita. Namun liturgi yang indah tidak berarti liturgi yang dihiasi dengan bunga yang mahal atau tempat didominasi dengan aneka macam bunga melainkan dihiasi dengan bunga yang sesuai dengan situasi liturgis. Atau sekarang ini dilakukan oleh beberapa paroki, bunga altar diganti dengan aneka macam tanaman hias atau tanaman hidup yang lain. Pada prinsipnya, tidak hanya umat beriman, tetapi semua makhluk ciptaanNya juga turut memuji dan memuliakan Allah dengan caranya masing-masing.

Sebuah harapan

Semoga rangkaian bunga altar atau tanaman yang ditata di sekitar altar tidak hanya memperindah liturgi, tetapi juga menjadi sebuah simbolisasi pujian semua makhluk ciptaan Tuhan.





PENDAMPINGAN LITURGI 
Tuesday, February 9, 2010, 22:53 - Pastoral Posted by Administrator
I. PENGANTAR UMUM LITURGI

1. MENGHAYATI LITURGI
Setiap orang beriman dituntut mengungkapkan dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengungkapan iman menunjukkan identitas lahiriah seseorang dan menyatakan secara nyata relasinya dengan yang ilahi. Liturgi merupakan ungkapan resmi iman seseorang. Resmi menekankan aspek kewajiban dan aspek formalitas (bentuk, pelayan dan doa-doanya). Iman kelihatan dari cara hidup.
Perwujudan iman menunjukkan kwalitas iman yang dinyatakan dalam menjalani hidup baik secara personal maupun relasional. Personal menunjuk pada aspek tanggung jawab dan relasional menunjuk pada aspek tingkat kwalitas relasi dengan sesama. Iman mempengaruhi dan mendasari perbuatan.
Pengungkapan dan perwujudan sama pentingnya dan tidak boleh menekankan salah satu aspek saja. Pengungkapan mendapat dasarnya dalam perwujudan. Perwujudan mendapat inspirasinya dari pengungkapan.
Berliturgi bukan soal wajib dan tidak, boleh dan tidak, melainkan soal konsekuensi dari jati dirinya sebagai orang beriman. Liturgi menyatakan jati diri sebagai orang beriman. Maka tidak mungkin beriman tanpa berliturgi.
Liturgi bagaikan charger untuk iman. Karena liturgi, iman terus diteguhkan, dikuatkan, dibaharui dan akhirnya terus hidup dan mempengaruhi seluruh kehidupan.
Keprihatinan besar saat ini adalah umat kurang menempatkan ekaristi sebagai bagian penting dari hidupnya, terutama dari imannya. Liturgi lebih dilihat sebagai bagian dari aktivitas umat beriman, yang dijalankan menurut situasi dan kondisi dirinya. Juga liturgi lebih dilihat sebagai kewajiban, yang cenderung sudah puas kalau sudah mengikutinya. Lebih parah lagi ada gejala pelunturan praktek sembah sujud terhadap keluhuran liturgi.
Paus Yohanes Paulus II melalui ensiklik Ecclesia de Eucharistia mengajak untuk menyalakan kembali pesona Ekaristi sehingga ekaristi dengan seluruh misterinya bersinar dalam setiap insan.

2. MEMAHAMI LITURGI

Bunda Gereja sangat menginginkan, supaya semua orang beriman dibimbing kearah keikut-sertaan yang sepenuhnya, sadar dan aktif dalam perayaan-perayaan Liturgi. Keikut-sertaan seperti itu dituntut oleh Liturgi sendiri, dan berdasarkan Babtis merupakan hak serta kewajiban umat kristiani sebagai “bangsa terpilih, imamat rajawai, bangsa yang kudus, Umat kepunyaan Allah sendiri” (1Ptr 2:9; Lih. 2:4-5).
Sacrosanctum Concilium 14

2.1. Pengertian Liturgi
Berliturgi secara sadar dan aktif menegaskan aspek PEMAHAMAN (akal budi) dan KETERLIBATAN (hati) semua umat beriman. Pemahaman menegaskan sisi pengetahuan, dimana semua umat beriman bisa memahami liturgi yang mereka rayakan. Sedangkan keterlibatan menunjuk soal hati, yaitu hati yang terlibat secara penuh dalam liturgi. Berdasarkan SC 2, 7, 10, Liturgi disebut sebagai perayaan misteri keselamatan Allah (penebusan dan pengudusan oleh Allah dan pemuliaan oleh manusia) yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus.
Dilihat dari sisi pelaksananya, liturgi dapat disebut sebagai perayaan Tuhan dan perayaan iman. Disebut perayaan Tuhan karena dalam liturgi, Allah yang berinisiatif menjumpai manusia. Allah yang mencari dan mengundang; bukan manusia yang mencari Allah. Maksud Allah mengundang manusia untuk berpartisipasi dan berperan serta dalam hidupNya. Dan disebut perayaan iman, karena dalam liturgi manusia terlibat dengan menanggapi undangan Tuhan untuk terlibat dalam perjamuanNya.
Karena itu, dari peristiwanya, liturgi menjadi medan sebuah perjumpaan, yaitu perjumpaan antara Allah dan manusia. Perjumpaan itu membawa anugerah keselamatan bagi manusia. Anugerah ini mengalir pada setiap orang yang merayakan dan yang didoakannya, lepas dari disposisi batin orang yang bersangkutan, sebab sakramen bekerja dengan ex opere operato. Disposisi batin lebih menunjuk pada sisi kepantasan dan kelayakan orang saat mengambil bagian dalam perayaan.


2.2. Pembentuk Liturgi
a. Dialogis
Liturgi adalah peristiwa perjumpaan dan komunikasi antara penyelenggara dan undangan, antara Allah dan manusia. Perjumpaan/komunikasi itu terjadi secara dialogis dan berlangsung melalui Yesus dalam Roh Kudus. Allah dalam Yesus Kristus memanggil, mengumpulkan untuk memuliakan Allah (katabatis). Tindakan ini mendatangkan pengudusan dan penyelamatan bagi manusia. Manusia menanggapi dan menjawab (anabatis). Tindakan ini menyatakan bentuk pemuliaan, penyembahan, sembah bakti dan pujian untuk Allah
b. Simbolis
Perjumpaan Allah dan manusia bukanlah ilusi, atau omong kosong tetapi terjadi dalam bentuk simbolis. Simbol selalu menandakan realitas di baliknya, yaitu realitas kehadiran Yesus yang menyelamatkan. Struktur simbolis liturgi terwujud dalam aneka unsur liturgi (alat, pakaian, warna, pelayan)
c. Anamnesis
Perayaan Liturgi mempunyai ciri anamnesis (kenangan, bukan sekedar ingatan/peringatan). Kenangan lebih menyatakan tindakan menghadirkan, yaitu menghadirkan karya penyelamatan Allah di masa lampau. Penghadiran ini obyektif, real dan nyata karena: tindakan Allah yang selalu berlaku, iman jemaat dan Roh Kudus yang menghubungkan peristiwa lama dan yang baru.
d. Epiklesis
Epiklesis dalam liturgi berarti seruan dan permohonan agar Allah berkenan mengutus Roh Kudus guna menguduskan sesuatu (air, roti, anggur) atau pribadi tertentu. Dimensi epiklesis membuat liturgi bukan suatu upacara magis tapi sungguh pengudusan dari Allah sendiri. Pengudusan itu dilaksanakan oleh Roh Kudus

2.3. Ungkapan liturgi
a. Tindakan manusiawi
Kegiatan indrawi: mendengarkan, melihat, menyentuh, merasakan dan membau
Gerakan dan Bahasa Badan: berjalan, berdiri, duduk, berlutut, membungkuk, meniarap, tangan (terkatup, terangkat, terentang), penumpangan, tanda salib, berkat, menepuk dada, jabatan tangan, membasuh tangan
b. Musik
Musik Liturgi menjadi salah satu bentuk ungkapan liturgi
Mengungkapkan peran serta umat yang aktif, untuk membangkitkan suasana bagi tumbuhnya daya tangkap dan daya tanggap jiwa terhadap sabda dan karunia Allah dalam liturgi. Memperjelas misteri Kristus, membantu kesadaran kebersamaan dan memberikan kemeriahan dan keagungan bagi liturgi.
c. Alat-alat Liturgi
- Unsur-unsur alam: roti, anggur, air, minyak, api, dupa-ratus dan bahan wangian, garam dan abu
- Alat-alat liturgi buatan:
Alat sengaja dibuat untuk melayani perayaan misteri Tuhan
d. Pakaian dan warna Liturgi
- Fungsi Pakaian: untuk menampilkan dan mengungkapkan aneka fungsi dan tugas pelayanan; menonjolkan sifat meriah liturgi; melambangkan kehadiran Kristus.
- Warna Liturgi: untuk mengungkapkan sifat dasar misteri iman yang dirayakan; menegaskan perjalanan hidup kristiani sepanjang tahun

2.4. Buah Liturgi
a. Suka Cita Sejati:
Karena mendapat pengampunan, peneguhan, pengharapan, penebusan, kesembuhan, kekuatan, penghiburan, pembebasan, kedamaian, dan karunia lainnya.
b. Communio
- Tercipta communio manusia dengan Allah
- Tercipta communio manusia dengan sesamanya
- Tercipta communio manusia dengan lingkungan hidupnya.
c. Mencicipi kehidupan sorgawi
Manusia boleh memandang dan mencicipi kehidupan sorgawi yang dipuaskan dengan roti surgawi



2.5. Perutusan
a. Hidup Baru sesuai dengan buah yang dinikmati dalam perayaan (sukacita, communio, hayati hidup sorgawi)
b. Menghadirkan Kristus, dengan menghayati dan melaksanakan sabda Allah
c. Menjadi penyalur berkat Tuhan

3. MELIBATKAN DALAM LITURGI
Liturgi adalah perayaan seluruh umat. Sebagai konsekuensinya umat dituntut partisipasinya dalam seluruh perayaan liturgi. Umat bukan penonton yang hanya datang, duduk dan menikmati tetapi pelaksana. Pius XII dalam ensiklik Mediator Dei (1947) merinci partisipasi dalam tiga hal:
a) partisipasi batin atau penghayatan pribadi,
b) partisipasi lahir, yaitu turut bernyanyi, berdoa, atau bersikap tertentu
c) partisipasi sakramental (komuni).
Guna memudahkan partisipasi seluruh umat, perlu diperhatikan:
a. Liturgi hendaknya dijiwai semangat sederhana, tidak aneh-aneh atau berbelit-belit. Konsili Vatikan II menandaskan agar upacara-upacara bersifat sederhana, namun luhur, singkat, tanpa pengulangan-pengulangan yang tidak ada gunanya. Liturgi disesuaikan dengan daya tangkap umat beriman.
b. Liturgi hendaknya memiliki semangat adaptif, memberi peluang untuk penyesuaikan, bahkan harus disesuaikan. Dalam hal menyangkut iman atau kesejahteraan segenap jemaat, Gereja tidak ingin mengharuskan keseragaman yang kaku. Intinya liturgi tetap memiliki semangat dasar yaitu liturgi terlaksana secara baik dan benar, membawa buah nyata bagi kehidupan umat da membantu umat untuk memuliakan Allah dan menguduskan diri.



II. PEDOMAN PELAKSANAAN PERAYAAN EKARISTI


A. RITUS PEMBUKA
1. Unsur
• Perarakan masuk: para petugas liturgi masuk diiringi nyanyian pembuka. Tujuan nyanyian adalah untuk membuka misa, membina kesatuan umat, mengantar masuk ke misteri masa liturgi dan mengiringi perarakan.
• Penghormatan altar dan salam oleh imam. Salam di satu sisi mengungkapkan kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat dan di sisi lain memperlihatkan tanggapan umat yang berkumpul
• Ordinarium: Tuhan kasihanilah kami, didaraskan atau dinyanyikan untuk mengungkapkan seruan kepada Tuhan dan memohon belas kasihanNya. kemuliaan: menjadi madah umat untuk memuji Allah Bapa dan Anak Domba Allah serta memohon belas kasihanNya. Kemuliaan dilagukan/diucapkan pada hari raya, perayaan meriah dan hari minggu (kecuali adven dan prapaskah)
• Doa pembuka: Sebelum doa diucapkan ada saat hening untuk menyadari kehadiran Tuhan, dan dalam hati mengungkapkan doanya masing-masing. Lalu imam membuka doa yang mengandung inti perayaan liturgi yang dirayakan dan menutup dengan rumusan trinitaris. Doa pembuka disebut doa collecta dan presidensial. Doa collecta berarti kumpulan dari doa-doa yang diungkapkan oleh umat pada saat hening yang kemudian diteruskan oleh imam. Karena hanya imam yang mendoakan doa pembuka itu, maka doa pembuka juga disebut doa presidensial, yaitu doa resmi dan publik yang dibawakan oleh pemimpin atas nama seluruh umat. Dalam doa ini, umat tidak diikutsertakan untuk mengucapkannya. Umat hanya menjawab “amin” setelah imam mengakhiri doanya dengan doa trinitaris, yaitu doa yang diarahkan kepada Allah Bapa, dengan pengantaraan Putra dalam Roh Kudus.

2. Tujuan:
• Menjadi pembuka, pengantar dan persiapan
• Mempersatukan umat yang berhimpun dan mempersiapkan mereka supaya mendengarkan sabda Allah dengan penuh perhatian dan merayakan Ekaristi dengan layak

3. Tata Gerak
• Berdiri: saat arak-arakan sampai salam; kemuliaan sampai doa pembuka.
• Duduk/berlutut: saat pengantar sampai Tuhan kasihanilah kami

B. LITURGI SABDA
1. Unsur:
• Bacaan I: Dari Kitab suci dan dibacakan oleh seorang lektor dengan suara lantang, dengan ucapan jelas, pembawaan pantas dan penghayatan yang mendalam. Lektor tidak perlu membaca “BACAAN PERTAMA”!
• Masmur tanggapan: dipilih sesuai dengan bacaan yang bersangkutan. dianjurkan untuk dilagukan, terutama bagian refren. Fungsi mazmur untuk menopang permenungan atas sabda Allah
• Bacaan II: Dari Kitab suci dan dibacaan oleh seorang lektor seperti bacaan I. Kalau ada alasan yang berat, bacaan II bisa ditiadakan.
• Bait Pengantar Injil: Bait Pengantar Injil wajib dinyanyikan, bila tidak dinyanyikan, lebih baik dihilangkan. Tujuan Bait Pengantar Injil adalah untuk menyambut dan menyapa Tuhan yang siap bersabda dalam Injil dan sekaligus menyatakan iman umat.
• Homili: Yang memberikan adalah imam, pemimpin perayaan (tidak pernah oleh awam). Hari minggu dan pesta, wajib ada homili. Tujuan dari homili adalah untuk memupuk semangat hidup kristen dengan menjelaskan bacaan-bacaan atau teks lain yang berhubungan dengan misteri yang dirayakan.
• Pernyataan Iman: Mendoakan atau melagukan syahadat. Tujuannya agar seluruh umat yang berhimpun dapat menanggapi sabda Allah yang dimaklumkan dan dijelaskan dalam homili.
• Doa Umat: Doa Umat oleh lektor/petugas untuk menyatakan permohonan atas keselamatan dan permohonan untuk mengamalkan tugas imamat yang mereka terima melalui baptis. Umumnya doa itu berisi doa untuk keperluan Gereja, penguasa negara dan keselamatan seluruh dunia, untuk orang yang menderita dan untuk umat setempat atau kepentingannya sesuai dengan misteri yang dirayakan. Imam membuka dan menutup. Tujuan doa umat adalah sebagai tanggapan umat atas sabda Allah yang mereka terima dengan penuh iman.

2. Tujuan:
• Tujuan: Untuk menyingkapkan misteri penebusan dan keselamatan serta memberikan makanan rohani melalui sabda yang diwartakan.
• Lewat liturgi ini, umat merasakan kehadiran Tuhan, meresapkan dalam keheningan dan nyanyian dan mengimani dalam syahadat serta mengungkapkan pengharapannya dalam doa umat.

3. Tata Gerak:
• Duduk: saat mendengarkan bacaan I, II, menanggapi sabda melalui nyanyian masmur dan mendengarkan homili.
• Berdiri: Umat berdiri saat Menyanyikan Bait Pengantar Injil, mendengarkan Injil dan mendoakan syahadat dan doa umat.

C. LITURGI EKARISTI
1. Unsur
• Persiapan Persembahan: kolekte dan bahan persembahan yaitu roti dan anggur dibawa ke altar. Perarakan persembahan diiringi dengan nyanyian persiapan persembahan sampai semua bahan tertata di atas altar. Dilanjutkan pendupaan terhadap roti dan anggur, salib dan altar. Pendupaan melambangkan persembahan dan doa Gereja yang naik kehadirat Tuhan. Imam dan umat juga didupai untuk menegaskan martabat luhur mereka.
• Doa Persiapan Persembahan: Imam mengundang umat untuk berdoa dan diakhiri dengan doa persiapan persembahan yang bersifat presidensial.
• Doa Syukur Agung:
• Makna: DSA merupakan pusat dan puncak seluruh perayaan Ekaristi, yang berisi doa syukur dan pengudusan. Dalam doa ini seluruh umat menggabungkan diri dengan kristus dalam memuji karya Allah yang agung dan dalam mempersembahkan korban.
• Ucapan syukur: dalam Prefasi, atas nama seluruh umat, imam memuji Allah bapa dan bersyukur kepadaNya atas seluruh karya penyelamatan atau atas semua alasan tertentu
• Aklamasi: Umat bersama imam melagukan kudus
• Epiklesis: Gereja memohon kuasa Roh Kudus dan berdoa supaya bahan persembahan menjadi tubuh dan darah Kristus; juga supaya korban itu menjadi sumber keselamatan yang menyambutnya.
• Kisah Insitusi dan konsekrasi: Mengulangi kata-kata dan tindakan yesus dalam perjamuan terakhir, dimana Ia mempersembahkan tubuh dan darahNya untuk dimakan dan diminum
• Anamnesis: Gereja mengenangkan Kristus, terutama sengsaraNya yang menyelematkan, kebangkitanNya yang mulia dan kenaikanNya ke sorga
• Persembahan: Gereja mempersembahkan korban yang murni kepada Allah Bapa dalam Roh Kudus sebagai tanda nyata persembahan diri sendiri.
• Permohonan: Ekaristi dirayakan dalam persekutuan Gereja (surga dan bumi) untuk kesejahteraan seluruh Gereja dan anggota-anggotanya (hidup maupun meninggal)
• Doksologi Penutup: diungkapkan pujian kepada Allah dan dikukuhkan dengan aklamasi meriah Amin.
• Bapa kami: imam bersama umat berdoa Bapa Kami mohon rejeki, pengampunan dosa dan dibebaskan dari segala kejahatan.
• Doa dan salam Damai: memohon damai dan kesatuan Gereja dan seluruh umat manusia, sebelum akhirnya kesatuan itu disempurnakan dengan Tubuh Kristus. Diungkapkan dengan saling memberi salaman dengan orang terdekat
• Pemecahan roti: imam memecahkan roti sebagai simbol umat yang banyak menjadi satu karena menyambut satu roti yaitu Kristus sendiri. Pemecahan roti ini diiringi dengan nyanyian/darasan anak domba
• Komuni: umat ambil bagian dalam komuni sebagai tanda keikutsertaan umat dalam korban Kristus yang dirayakan. Sementara itu dinyanyikan nyanyian komuni agar umat secara batin bersatu dalam komuni, secara lahir bersatu dalam nyanyian; untuk menunjukkan kegembiraan hati dan menggaris bawahi perarakan komuni.
• Doa Sesudah Komuni: Imam berdoa presidensial untuk menyempurnakan permohonan umat sekaligus untuk menutup seluruh ritus komuni sambil mohon agar misteri yang telah dirayakan menghasilkan buah

2. Tujuan
• Menghadirkan korban salib dalam Gereja untuk menyatakan karya penyelamatan dan penebusan

3. Tata Gerak:
• Berdiri: saat prefasi sampai kudus; Bapa kami, salam damai
• Duduk: pemecahan roti, sesudah komuni, doa sesudah komuni
• Duduk/berlutut/berdiri: Doa Syukur Agung, pemecahan roti

D. RITUS PENUTUP
1. Unsur
• Pengumuman: mengumumkan hal yang berhubungan dengan kepentingan jemaat seluruhnya, terutama pengumuman perkawinan
• Salam dan Berkat Imam: Imam memberkati dengan berkat biasa atau meriah
• Pengutusan: Umat diutus untuk menjadi pewarta kabar gembira
• Penghormatan altar: mencium altar dan meninggalkan altar
• Perarakan ke sakristi: bersama seluruh petugas liturgi, imam kembali ke sakristi, dengan diiringi lagu penutup

2. Tujuan:
• Bagian ini menutup seluruh rangkaian perayaan ekaristi dan sekaligus membuka tugas perutusan untuk mewartakan kabar gembira.

3. Tata Gerak
• Duduk: mendengarkan pengumuman
• Berdiri/berlutut: menerima berkat, pengutusan dan berdiri saat prosesi perarakan petugas liturgi ke sakristi

III. TIM LITURGI PAROKI

A. Arti
Persekutuan orang-orang sebagai team work yang dipimpin dengan seorang koordinator yang bekerja bersama-sama mempersiapkan, menyelenggarakan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan liturgi (paroki). Tim Liturgi ini bertanggung jawab atas kehidupan liturgi baik liturgi rutin (harian, mingguan, tahunan) maupun khusus (HUT, perayaan khusus lainnya).

B. Personalia

1. Tim updating liturgi. Pastor paroki, ketua bidang liturgi paroki dan stasi, beberapa koordinator tim liturgi (mis: koor/musik, teks misa) dan orang-orang tertunjuk. Tim updating jangan terlalu banyak (ex. 5 orang)
2. Tim Pelaksana. Koord. tim-tim liturgi (prodiakon, misdinar, lektor, koor, musik, pemasmur, dsb)
3. Tim Sarana Peribadatan. Tim paramenta, sound system Gereja dan koster

C. Tugas dan tanggungjawab

1. Bertanggung jawab mengurusi bidang liturgi paroki
2. Bertanggung jawab mendampingi tim liturgi wilayah/lingkungan
3. Bertanggung jawab atas pelaksanaan liturgi paroki (harian, mingguan, khusus)
4. Meningkatkan pemahaman, penghayatan dan partisipasi umat dalam liturgi
5. Bertanggung jawab atas pemeliharaan dan pengadaan sarana peribadatan
6. Meningkatkan dan mengembangkan mutu perayaan liturgi dengan memperhatikan unsur-unsur inovasi (yang menyegarkan kehidupan liturgi), kreativitas (tidak monoton dan membosankan), inkulturasi (memperhatikan kekayaan tradisi setempat) dan konteks (sesuai dengan jaman dan keadaan).
7. Membuat arsip dan inventaris segala hal berkaitan dengan liturgi.

D. Mekanisme Kerja

1. Melibatkan semua pihak dalam suasana dialogis dan memberi ruang untuk berinisiatif.
2. Tim Up Dating/Litbang rapat sekurang-kurangnya sebulan sekali: perencanaan, pengembangan dan evaluasi
3. Bekerja atas dasar prinsip-prinsip teologis (atas dasar iman yang benar dan mengusahakan terciptanya communio umat Allah), liturgis (memperhatikan aturan-aturan liturgi yang berlaku universal) dan pastoral (memperhatikan situasi umat dan lingkungan).
4. Mengkomunikasikan segala rencana kegiatan liturgi kepada umat dan sekaligus mendengarkan sumbang saran dari umat.
5. Berkoordinasi dengan semua tim sesuai dengan kepentingannya.
6. Sekurang-kurangnya 3 bulan sekali rapat dengan para koordinator tim liturgi. Sebulan sekali rapat dalam satu tim kerja untuk mempersiapkan program kerja atau mengevaluasi program yang sudah terlaksana.

E. Mempersiapkan LITURGI EKARISTI

1. Tema
Merencanakan tema sesuai sesuai dengan bacaan, konteks dan intensi
2. Struktur
Menyusun liturgi dengan urutan yang tepat dan modifikasi yang sesuai dengan pedoman liturgi.
3. Menyusun doa:
- Doa selalu diarahkan kepada Bapa, melalui Yesus dan dalam Roh Kudus
- Doa pembuka: presidensial (doa yang disampaikan oleh imam kepada Allah atas nama seluruh umat dan semua yang hadir dan melalui dia, Kristus hadir mempimpin himpunan umat), trinitaris (disampaikan kepada Bapa, melalui Putra dalam kesatuan Roh Kudus), collecta (saat hening untuk menyadari kehadiran Tuhan dan memberi kesempatan umat mengungkapkan permohonan pribadi)
- Doa Umat: menanggapi sabda, memohon keselamatan dan berbagai permohonan untuk kepentingan Gereja, pemerintah, yang menderita dan semua orang, atau kebutuhan sesuai dengan konteksnya.
- Doa persiapan persembahan: Presidensial, Doa ini selalu diakhiri dengan "Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami" atau kalau disebut Putra, dengan "Yang hidup dan berkuasa , kini dan sepanjang masa."
- Doa sesudah komuni: presidensial, collecta. Intensi doa agar misteri yang sudah dirayakan menghasilkan buah.
4. Lagu
Menentukan lagu sesuai misteri yang dirayakan, melibatkan umat, meningkatkan kemeriahan liturgi dan sebagai iringan.
5. Petugas
Menentukan petugas, siapa saja yang bertugas, disiapkan, dikoordinasi agar pelaksanaan lancar
6. Sarana dan prasarana
- Bahan dan alat:
o Unsur alami: roti, air, minyak, api, dupa, ratus, garam, abu, bahan wangi-wangian
o Alat buatan manusia: piala, sibori, patena, alat kepyur dsb
- Pakaian dan warna liturgi:
o Pakaian untuk menampilkan dan mengungkapkan aneka fungsi dan tugas pelayanan; menonjolkan sifat meriah dan melambangkan kehadiran Kristus
o Warna: untuk mengungkapkan sifat dasar misteri iman yang dirayakan; menegaskan perjalanan hidup kristiani sepanjang tahun
7. Membuat teks misa
- Tema/masa perayaan Ekaristi
- Lagu (pembuka, ordinarium, mazmur tanggapan, bait pengantar injil, persiapan persembahan, komuni, penutup)
- Bacaan (I,II, Injil)
- Doa (pembuka, tobat, persiapan persembahan, DSA, sesudah komuni)
- Kalau perlu dimasukkan juga aklamasi umat, pengumuman paroki)

IV. TIM LITURGI LINGKUNGAN

A. SIAPA TIM LITURGI LINGKUNGAN
1. Sekelompok orang yang bersama-sama menjadi team work, bekerja sama menjalankan tugas-tugas berkaitan dengan liturgi untuk kepentingan lingkungan maupun paroki.
o Team work: kebersamaan/komunikasi dalam berpikir, berencana, melaksanakan tugas.
o Bekerjasama: jiwa dan semangat tim
o Kepentingan lingkungan dan paroki: menegaskan sisi kepercayaan banyak orang, menuntut komitmen dan tanggungjawab
2. Memiliki VISI, STRATEGI DAN ETOS KERJA
o VISI: bekerja bukan asal bekerja, tetapi bekerja dengan suatu arah dan untuk suatu tujuan: (mis) Berkembang bersama dalam lingkungan
o Strategi: cara mewujudkan visi : agenda, keterlibatan/dukungan, sarana prasarana, dsb
o Etos kerja: bukan sekedar terima jabatan/tugas, tetapi menjalankan dengan ketekunan dan rasa tanggung jawab.
3. Menentukan ANGGOTA TIM LITURGI
o Mampu: tahu dalam bidangnya (mis: arti dan sarana), mampu bekerjasama,
o Mau: ada keterlibatan hati, kesiapan batin, ketidakterpaksaan; juga mau berkembang dan bertanggung jawab.
o Waktu: ada waktu untuk tim, bukan sisa waktu tetapi disediakan/diprioritaskan dalam agenda hidupnya.
o Laku: aktif, partisipatif, kreatif dan inovatif

B. TUGAS TIM LITURGI LINGKUNGAN
1. Mempersiapkan peribadatan lingkungan
o Misa lingkungan/ujub keluarga: tahu alat-alat yang dibutuhkan, warna liturgi, menyusun peralatan misa
o Ibadat lingkungan: tahu kebutuhan ibadat dengan segala ujudnya.
 Lingkungan kalau perlu dan mampu, memiliki inventaris alat-alat: misa, pemberkatan, buku liturgi, sound system
2. Mengembangkan liturgi lingkungan
o Menemukan bentuk-bentuk liturgi/para liturgi yang lebih hidup dan mengena bagi umat.
o Memikirkan sarana-sarana (alat atau buku) liturgi lingkungan
o Meningkatkan pemahaman seputar liturgi untuk umat lingkungan: pendalaman, sarasehan, week end, dsb.
o Meningkatkan pendukung liturgi: koor, organis, misdinar, lektor, pewarta dsb
3. Mengkoordinir tugas lingkungan di paroki
o Mempersiapkan koor untuk tugas di paroki
o Menunjuk orang-orang untuk menjadi kolektan, persembahan, doa umat.
o Membuat teks misa yang baik (mengena, kontekstual, sesuai dengan masanya) untuk misa mingguan paroki.
 Lingkungan bersama-sama memberikan yang terbaik untuk umat separoki
4. Mendorong umat untuk semakin mencintai dan melibatkan dalam liturgi lingkungan atau paroki.
o Menciptakan suasana agar umat senang untuk terlibat
o Memberi sapaan kasih
o Menumbuhkan sense of belonging dan sense of liturgy
5. Memahami seluk-beluk liturgi.
o Memahami arti dan pentingnya liturgi untuk orang beriman
o Memahami alat-alat dan simbolisasinya, buku, pakaian dan kegunaan serta saat pemakaiannya
o Memahami tata gerak liturgi
 On going formation (belajar terus)



V. PRODIAKON

A. Siapa Prodiakon
prodiakon adalah petugas liturgi yang melaksanakan beberapa tugas diakon antara lain membantu imam dalam perayaan ekaristi (menyiapkan bahan persembahan dan melayani komuni). Disamping itu prodiakon dapat diberi tugas memimpin ibadat sabda, melayani komuni orang sakit, memimpin ibadat di sekitar kematian. Prodiakon dilantik oleh uskup atau orang lain yang diberi madat oleh uskup untuk masa bakti tertentu, misalnya 3 tahun dengan lingkup tugasnya di paroki. Pengangkatan prodiakon secara formal dinyatakan lewat Surat Keputusan uskup setempat. Jabatan prodiakon ini bisa diperpanjang dan juga diperpendek. Apabila seseorang yang kebetulan adalah seorang prodiakon berpindah tempat atau berada di tempat lain di luar paroki, ia tidak otomatis jabatan prodiakon itu berlaku di tempat yang baru.

B. Tugas Prodiakon

Prodiakon dipilih oleh dari antara umat dan diangkat oleh Uskup untuk suatu tugas tertentu. Pada prinsipnya ada dua tugas utama dari prodiakon:

1. Membantu menerimakan komuni:
- Dalam perayaan ekaristi. Setiap erayaan Ekaristi, pada prinsipnya prodiakon dapat membantu imam dalam membagikan komuni. Bantuan itu sangat dibutuhkan terutama dalam Perayaan Ekaristi mingguan, di mana umat yang hadir cukup banyak. Demi menciptakan suasana liturgis, tentu akan sangat baik kalau prodiakon mengikuti prosesi sejak awal, sehingga sejak awal pula ia mengenakan pakaian liturgis dan menduduki tempat yang telah disediakan.
- Di luar Perayaan Ekaristi: dalam ibadat sabda dan pengiriman komuni untuk orang sakit atau orang dalam penjara. Tidak setiap ibadat sabda diadakan penerimaan komuni, hanya dalam ibadat sabda khusus seperti Hari Jumat Agung, atau ibadat sabda di mana imam tidak mungkin dihadirkan karena jarak dan kesempatan, ibadat sabda bisa menggunakan penerimaan komuni. Peran prodiakon dalam acara ibadat sabda dan pengiriman komuni untuk orang sakit dan orang dalam penjara akan sangat berarti untuk mewujudkan pelayanan Gereja bagi mereka. Dalam penerimaan komuni untuk orang sakit atau dalam penjara akan sangat baik kalau sebelum mereka menerima, mereka diajak berdoa atau ibadat singkat sebagai wujud persiapan diri menerima kehadiran Kristus. Lansia yang masih mungkin untuk pergi ke gereja hendaknya, tidak ikut menerima kiriman komuni yang dikhususkan untuk orang sakit dan orang dalam penjara.

2. Melaksanakan tugas peribadatan dan pewartaan

- Memimpin ibadat sabda. Prodiakan di lingkungan atau kelompok kategorial tertentu sering kali harus memimpin ibadat sabda. Hendaknya sebelum mempimpin, seorang prodiakon mempersiapkan diri dengan baik agar pada saat pelaksanaan dapat lancar. Diusahakan setiap kali bertugas prodiakon mengenakan pakaian liturgis (alba/singel/jubah dan samir).
- Memberikan homili/renungan. Prodiakon memiliki tugas memberikan homili/renungan dalam suatu ibadat atau sarasehan. Tugas ini akan lebih baik kalau disiapkan sebelumnya, tidak spontan. Homili yang disiapkan akan jauh lebih baik dan lebih berbobot. Hendaknya saat memberikan homili, prodiakon mengenakan pakaian liturgis dan menyampaikannya secara jelas, runtut dan komunikatif.
- Memimpin liturgi pemakaman. Dalam ibadat pemakaman, sering kali prodiakon mendapat tugas untuk mempimpin ibadat pemberkatan perkawinan. Biasanya kalau ada imam, imam memimpin ibadat pemberkatan di tempat duka, sedangkan prodiakon meneruskannya di makam atau tempat peristirahatan terakhir. Tetapi seandainya tidak ada imam, prodiakon pun siap untuk melaksanakan tugas pemberkatan di rumah duka.
- Memimpin berbagai ibadat berkat/ujub doa di lingkungan/wilayah/paroki. Dalam ibadat berkat atau ujub prodiakon seringkali diminta untuk memimpin. Hendaknya diusakahan agar semua disiapkan sebelumnya, baik doa, bacaan, renungan maupun tata ibadatnya. Bacaan dan renungan hendaknya disesuaikan dengan ujubnya.

C. Landasan Pelayanan Prodiakon

1. Ambil bagian dalam karya imamat Kristus
2. Tuntutan hakekat liturgi sebagai perayaan Gereja
3. Tanggung jawab membangun kehidupan Gereja

D. Keistimewaan Prodikaon

1. Orang pilihan dalam Gereja. Diusulkan umat, dipilih rama paroki dan diangkat oleh uskup
2. Menghadirkan Kristus, melalui komuni, melalui pewartaan dan melalui kesaksian hidup
3. “Barisan depan dalam perayaan liturgi”. Dalam liturgi, berada di dekat altar Tuhan. Menuntut kepantasan dalam sikap dan penampilan liturgis
4. Tokoh Umat. Menjadi sorotan masyarakat. Perlu menjaga diri, jangan sampai menjadi batu sandunga, diharapkan justru menjadi teladan dan panutan

E. Tuntutan Prodiakon

1. Mempersiapkan diri: jarak jauh (pengetahuan) dan jarak dekat (persiapan fisik, psikis, rohani)
2. Membekali diri: menambah pengetahuan dan ketrampilan untuk mendukung tugas pelayanan
3. Melayani dengan murah hati: kesiapsediaan setiap saat, kepekaan, kasih, menyediakan waktu
4. Melayani dengan rendah hati: tidak main kuasa, bisa didekati oleh siapa saja, tidak birokratis
5. Melayani dengan setia: memberi prioritas pada tugas yang dipercayakan, pelaksanaan tugas bukan untuk diri tetapi untuk pelayanan kepada umat, memegang komitmen
6. Meningkatkan mutu hidup: secara rohani, psikologis dan secara sosial
7. Memahami aturan-aturan dan pedoman liturgi yang benar



 
    LoginAdmin        @copyright 2009 Gereja Katolik St Ignatius Magelang